Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr
( Romo Yatno )
   
GERAKAN LINTAS IMAN 

KIRAB LINTAS IMAN
(Peringatan FPUB hari ke 2)

Gerakan Lintas iman yang diprakarsai oleh Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) hari ke dua berlangsung di pusat kegiatan Gedung Pamungkas sisi timur Gor Kridosono, Jumat 26 Februari 2010. Kegiatan hari ke dua diawali dengan Lomba Lukis anak SD, diikuti sekitar 163 peserta, itu cukup menarik karena ada beberapa hadiah: Juara pertama mendapat hadiah Tropi dari HB X, Kep. Din. Olah Raga Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wali kota Yogyakarta. Serta, uang pembinaan. Sedangkan juara harapan mendapat tropi dari FPUB dan sertifikat dari Kartika Affandy. Yang menarik lagi, karena 10 besar lukisan yang dapat juara, Lukisan mereka akan diikutsertakan dalam Lomba Lukis Anak di Republik Cheko. Ini atas inisiatif KH. Zaiffudin, tokoh Ahmadiyah Yogyakarta. Asyiik, menarik karena anak-anak dengan pelbagai tingkah polahnya, bahkan cuek bebek dengan segala peraturan. Padahal, tema besarnya adalah: “Indahnya bersahabat“. Misalnya, ada kakak beradik yang sama-sama ikut lomba, lalu lukisan kakaknya diminta adik, padahal belum selesai, terpaksa si kakak melukis lagi. Ada pula yang satu lukisan digambar dua orang karena kebetulan anak kembar. Dari seluruh peserta siang itu sudah terpilih 10 nominasi, kebetulan jurinya dari utusan Kartika Affandi dan pelukis kaki dari Hipenca (Himpunan penyandang cacat). Ibu Kartika Affandy saat itu menghadiahkan Lukisan Pasar Bali untuk dilelang dan (kalau laku) dananya akan diserahkan ke FPUB untuk melanjutkan kegiatan perdamaian lintas Iman di Yogyakarta. Selesai lomba lukis, seluruh peserta dan panitia mempersiapkan acara sore hari. Yakni, Kirab lintas Iman dan Malam Musik Kolaborasi.

Baca Selengkapnya ..... di sini


Kunjungan FPUB 
Tuesday, July 27, 2010, 18:28 - Lintas Iman Posted by romoyatno



Kunjungan wakil Asia Pasific ke FPUB

Hari Minggu 25 Juli 2010, Forum Persaudaraan Umat Beriman Yogyakarta (FPUB) mendapat kunjungan perwakilan dari sebelas Negara Asia Pasifik (antara lain: Myanmar, Kamboja, Vietnam, Papua New Guinea, Timor Leste, Thailand, Burma, Philiphina, dll). Acara tersebut dipandu oleh Kepala Diklat Departemen Luar Negeri Indonesia, Arief Hidayat.

Katanya, beberapa perwakilan tersebut diutus ke Indonesia, khususnya di Yogyakarta, untuk belajar bagaimana mengkondisikan perdamaian lintas agama dan kepercayaan seperti yang telah sekian lama terwujud di Yogyakarta. Kedatangan mereka disambut secara sederhana di Pesantren Nurul Umahat yang menjadi salah satu tempat warga FPUB sering berkumpul. Memang menarik dalam diskusi minggu siang tersebut. Kebanyakan dari mereka bertanya, apa yang kami kerjakan sehingga umat Islam tidak canggung bergaul dengan masyarakat non Islam. Kami menjelaskan bahwa hubungan dekat itu tidak menyeluruh, namun cukup memberi warna di Yogyakarta. Resepnya sederhana, hubungan dekat itu DIMULAI. Kami tidak pertama-tama melihat perbedaan, melainkan melihat kesamaan. Sebab, kalau pertemuan itu sudah diawali dengan melihat perbedaan, yang terjadi kemudian adalah fanatisme.

Hubungan dekat juga dimulai melalui proses yang panjang dan personal. Apalagi kalau sering dipertemukan untuk menggarap permasalahan kemanusiaan, perbaikan tatanan alam, dll. Singkatnya, apa yang menjadi masalah umum, kami mulai kerjakan dalam kebersamaan.

Para tamu tersebut juga mempertanyakan: Bagaimana tantangan dari mereka yang tidak setuju dengan pendekatan gaya FPUB. Kami menjawab, tantangan selalu ada. Sebab, ketika setiap orang bergerak mesti beresiko, mendapatkan tantangan. Namun, kami memulai dari mereka yang terbuka untuk bekerja bersama. Biarlah orang tidak setuju, namun ternyata relasi baik itu membuahkan hidup lebih tenteram. Kadang tantangan juga menohok kami, mustahil FPUB mampu mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Kami sadar, memang pancingan itu sering menggelantung di depan mata. Namun, mengacu nasihat romo Mangunwijaya: Think Globaly Act Locally. Yang berarti apa yang kami kerjakan dalam tingkat lokal diharapkan mampu membawa dampak ke wilayah yang lebih luas. Buktinya gerakan yang mirip FPUB juga mulai tumbuh di banyak tempat.

Namun, yang menjadi tantangan ekstern, yang kadang menjadi kurang nyaman adalah sering kami kesulitan mengajak kawan-kawan kami untuk berani mulai berelasi manusiawi dan natural dengan kawan-kawan yang berbeda. Ada kecenderungan bahwa orang yang sudah merasa nyaman, mereka tidak ingin mendapat masalah baru saat mulai membuka diri terhadap orang yang berkeyakinan lain.

Sesudah menyaksikan foto-foto dan film singkat FPUB yang berjudul Yogya the city of tolerance, para tamu mengunjungi sisa kerajaan Mataram kuno dan masjid Agung di Kotagedhe. Situs kerajaan Mataram kuno dan masjid Agung tersebut menggambarkan perpaduan model bangunan Hindu dan Islam. Hal ini dimaksudkan bahwa sejak zaman Mangkubumi atau Hamengkubuwana I di Yogyakarta sudah ada toleransi lintas iman (Hindu dan Islam).

Selanjutnya para tamu kami antar ke Sanggar Candi Sapto Renggo, yakni pusat Penghayat Kerohanian Sapta Dharma. Di tempat itu kami banyak menjawab pertanyaan para tamu tentang kegiatan kebersamaan dengan teman lain yang berbeda agama. Kami menjelaskan bahwa meski di Indonesia hanya diakui 6 agama resmi, namun FPUB tetap merangkul mereka yang menyembah Tuhan, apa pun sebutannya, untuk diajak bersaudara. Dan, itu sudah berjalan 14 tahun. Mereka juga menyaksikan bagaimana para penghayat Sapto Dharma melakukan doa Sujud dengan cara yang cukup magis. Setelah berdiskusi panjang lebar, lalu dilanjutkan makan siang dengan senang. Beberapa tamu banyak yang berkomentar bahwa baru pertama kali ini mereka bisa makan bersama dalam konteks perbedaan agama dan kepercayaan namun bisa merasakan kebersamaan dan persaudaraan.

Karena keterbatasan waktu, para tamu segera bergeser dari Sanggar Candi Sapta Rengga menuju ke Keraton Yogyakarta guna melihat kebudayaan multi kultur yang masih dipertahankan dalam bentuk budaya Keraton Yogyakarta.

Kami sempat bertanya kepada para tamu, mengapa mereka jauh-jauh dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit melakukan kunjungan ke FPUB. Kebanyakan dari mereka, mereka justru ingin belajar dari kehidupan kongkrit (bukan hanya konsep) agar di Negara mereka bisa dipraktikkan. Sebab, pada dasarnya setiap manusia merindukan suasana kebersamaan dan perdamaian meski pun berbeda dalam penghayatan imannya.

Somohitan 26 Juli 2010

Gerakan Lintas Iman 
Wednesday, March 3, 2010, 18:12 - Lintas Iman Posted by romoyatno

KIRAB LINTAS IMAN
(Peringatan FPUB hari ke 2)

Gerakan Lintas iman yang diprakarsai oleh Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) hari ke dua berlangsung di pusat kegiatan Gedung Pamungkas sisi timur Gor Kridosono, Jumat 26 Februari 2010. Kegiatan hari ke dua diawali dengan Lomba Lukis anak SD, diikuti sekitar 163 peserta, itu cukup menarik karena ada beberapa hadiah: Juara pertama mendapat hadiah Tropi dari HB X, Kep. Din. Olah Raga Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wali kota Yogyakarta. Serta, uang pembinaan. Sedangkan juara harapan mendapat tropi dari FPUB dan sertifikat dari Kartika Affandy. Yang menarik lagi, karena 10 besar lukisan yang dapat juara, lukisan mereka akan diikutsertakan dalam Lomba Lukis Anak di Republik Cheko. Ini atas inisiatif KH. Zaiffudin, tokoh Ahmadiyah Yogyakarta. Asyiik, menarik karena anak-anak dengan pelbagai tingkah polahnya, bahkan cuek bebek dengan segala peraturan. Padahal, tema besarnya adalah: “Indahnya bersahabat“. Misalnya, ada kakak beradik yang sama-sama ikut lomba, lalu lukisan kakaknya diminta adik, padahal belum selesai, terpaksa si kakak melukis lagi. Ada pula yang satu lukisan digambar dua orang karena kebetulan anak kembar. Dari seluruh peserta siang itu sudah terpilih 10 nominasi, kebetulan jurinya dari utusan Kartika Affandi dan pelukis kaki dari Hipenca (Himpunan penyandang cacat). Ibu Kartika Affandy saat itu menghadiahkan Lukisan Pasar Bali untuk dilelang dan (kalau laku) dananya akan diserahkan ke FPUB untuk melanjutkan kegiatan perdamaian lintas Iman di Yogyakarta. Selesai lomba lukis, seluruh peserta dan panitia mempersiapkan acara sore hari. Yakni, Kirab lintas Iman dan Malam Musik Kolaborasi.

Acara Kirab Lintas Iman dimulai dari halaman parkir Gereja Jetis. Kebetulan, seminggu sebelumnya, kami sudah mengirim surat ke pastor paroki Jetis, dan hari Rabu, sebelum kirab, kami cek lagi sekaligus mengulangi permohonan izin. Karena halaman parkir gereja Jetis akan menjadi titik awal kegiatan kirab, kami telah mohon kepada pastor paroki Jetis agar romo atau suster, pro diakon atau misdinar atau Mudika ikut serta dalam kirab. Sayangnya, saat peserta kirab mulai memenuhi halaman parkir gereja, tidak satu pun utusan paroki yang rawuh (datang). Sebenarnya saya agak malu saat beberapa teman non Katolik bertanya, "lho mana romo peserta dari gereja Jetis?". Okey lah, ga papa. Kebetulan ada beberapa suster OSF dari paroki Kidul Loji yang nyegat di jalan dan bergabung.

Urutan Kirab: Cucuk Lampah pemegang bendhe, pembawa dupa, bendera FPUB dan Merah Putih, Panji-panji kelompok agama dan kepercayaan, serta beberapa peserta dari suku-suku dan lembaga budaya dan sosial masyarakat. Diikuti oleh para ulama, Kyai, Bedande, Bikku, Pandita, Pendeta, Tokoh-tokoh local believe, para suster, dan Tumpeng Perdamaian (yang dibuat dari palawija masyaratan tani lereng Merapi dari Dewan Paroki Somohitan), Bregogo panah para Misdinar Somohitan, Bregogo srikandi dari Somohitan, Komunitas Hanongodento, Lembaga San Edigio, Kejawen, Sapta Dharma, Komuntias Buddha, Hinddu, para santri, Bregodo tombak dari Girikerto Pancoh, Jathilan Krido Turonggo dari Gunung Menoreh, Pleton-pelon dari berbagai suku, agama dan kepercayaan serta dibuntuti dengan pasukan Relawan RESCUE, ambulan dan pengangkut logistic.

Saya sebagai ketua panitia saat itu sempat meneteskan air mata haru saat jam menunjukkan pukul 15.39 WIB. Saya melihat ke belakang. Sebab, peserta kirab yang hampir 1 km panjangnya, itu menampakkan betapa guyub masyarakat yang ada. Padahal, sudah puluhan kali kami mengadakan acara kirab, namun Jumat Sore yang lalu menjadi sore yang sangat membanggakan.

Barisan, dengan khikmat berjalan mantap dengan pengawalan para relawan lintas iman dan Rescue Merapi serta Kepolisian. Kami sempat mendengar beberapa orang bicara, ”Kalau pasukan tertentu yang sering ngisruh(ngacau) ketika melewati suatu jalan, masyarakat sudah mulai menutup pintu. Lain dengan sore ini, masyarakat pada keluar dan sibuk memberi minuman dan memotret, bahkan tidak sedikit yang bergabung bersama barisan Kirab menuju Gedung Pamungkas.

Beberapa suster yang ikut berjalan bersama kami bertanya: ”Romo jalan sepanjang 4 kilometer dalam kirab ini boleh enggak kalau dianggap menggantikan Jalan Salib, kan ini hari Jumat?" Dengan spontan saya jawab: ”Tadi saya sudah bertanya kepada Tuhan Yesus, untuk sore ini, jalan salib Jumat boleh diganti dengan jalan bersama dalam Kirab”.

Sampai di depan Gedung Pamungkas, semua berbaris dengan rapi, lalu kami pimpin berdoa untuk perdamaian bangsa, dilanjutkan Pernyataan Sikap menggalang kekuatan masyarakat untuk mewujudkan Yogyakarta sebagai kota perdamaian. Mengingat bahwa para peserta kirab sudah kehausan, maka mereka segera ngrayah tumpeng (berebut makanan tumpeng) dilanjutkan makan snack Munyukkan yang dibawa oleh para donatur. Namun, kami mengalami kesulitan seperti PERKAWINAN DI KANA. Persiapan sore untuk 1.000 orang ternyata yang ikut kirab melebihi target, sehingga yang Njathil (menari kuda lumpeng) belum kebagian snack. Untung lah ada beberapa kelompok yang mengeluarkan bekal Munyukkan. Istilah Munyukan adalah makanan matang yang terdiri dari kacang, pisang, ketela goreng atau rebus, atau dari hasil bumi yang ditempatkan di tampah untuk dimakan bersama. Beberapa kawan dan sesepuh banyak yang terharu saat melihat keseriusan peserta kirab yang tanpa pamrih.

Malam hari, sebagai malam penutupan, berlangsung cukup meriah, diawali dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh paguyuban orang Muda Bhineka Tunggal Ika lintas iman yang dimotori oleh Bpk. Wayan Senen dari ISI Yogyakarta dengan pelbagai lagu Nasional dan Perdamaian. Kemudian dilanjutkan dengan pengumuman hasil lomba lukis. Dari Somohitan kami mengirimkan dua anak, yakni Quinita dan Tulus, keduanya TIDAK Juara melainkan masuk ke 10 besar. Kami merasa bangga, bocah gunung bisa ikut dan dapat nomor, lalu lukisannya diikutsertakan dalam pameran lukis anak-anak di Republik Cheko. Sedangkan yang juara dari SD Muhammadiyah Kalasan, anak stasi Nandan, putra paroki Banteng.

Yang menggemparkan, dipentaskan tari-tari lintas iman, diiringi dengan lagu rohani peribadatan dari semua agama dan kepercayaan. Waktu sudah menunjukkan jam 23 saat acara diakhiri. Kami bersama seluruh panitia dan relawan lelah tetapi senang. Dalam sambutan, saya menyatakan bahwa inilah gambaran Indonesia Mini. Semoga bangsa kita seperti yang sejak kemarin kita buat dan puncaknya pada hari ini. Saya sempat berteriak: ”Para bapak ibu pejabat dan pemimpin lembaga dan negara, lihat lah sore hari ini, masyarakat tingkat bawah membuat suatu percontohan nyata. Karena itu mari kita serukan dari Yogyakarta, kita selamatkan Indonesia".

(Romo Y. Suyatno H. Pr., Somohitan, 1 Maret 2010)



| 1 | 2 | 3 | 4 | Next> Last>>

 
    Login Admin        @copyright 2010 ADITUSOFT.COM     LoginMember