Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr
( Romo Yatno )
   
rangkaian Pemberkatan gereja Somohitan.  
Friday, June 26, 2009, 23:12 - Berita Posted by Administrator
Saya masih melaporkan pandangan mata rangkaian Pemberkatan gereja Somohitan.
Empat hari berjalan sampai hari Kamis 25 Juni tim kemasyarakatan Somohitan masih berkeliling ke kampung-kampung sekitar untuk menyelesaikan kunjungan kasih. Bentuknya  sowan kepada  yang sepuh dan gerah/sakit untuk menyampaikan bingkisan sekadarnya dalam bentuk sembako dan kebutuhan harian. Karena kami menyadari bahwa mereka yang gerah dan sepuh ternyata menjadi pendoa yang hebat untuk kami. Kebetulan malam tadi, kami sedang menutup NOVENA PEMBERKATAN GEREJA sekaligus Novena pembangunan gereja yang sudah berlangsung 5 tahun.
Hari Jumat kami, akan mengenang jasa para pandahulu kami , dengan nyekar alias megirim bunga dan berdoa di makam para tokoh umat paroki Somohitan. Rencana kami tim akan dibagi tiga kelompok dan mulai perjalan nyekar selama sehari. Karena pada waktu kami akan mengadakan PELETAKAN BATU PERTAMA pembangunan gereja juga sowan ke makam para perintis iman Katolik di seantero lereng Merapi, demikian pula hari Jumat. Kata pak Karno kita harus ingat JAS MERAH (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Ada kita sekarang karena diadakan oleh pendahulu. Bahwa sekarang umat Somohitan mendekati jumlah 6000 orang karena jasa mereka. Maka dalam syukuran pemberkatan gereja besuk Minggu 28 Juni, kami nyekar bersama dahulu. Biar segala kegiatan kami diberkati oleh mereka.
Sementara yang nyekar mulai berjalan di pastoran tetap kami adakan PASAR MURAH yang kedua.
Mas Wiryawan rencana akan datang ke Somohitan kemudian akan melanjutkan perjalanan ke Mertoyudan untuk reuni.
Lah kalau betul kata mas Sentot bahwa eksim yang dari Mertoyudan akan mampir di Somohitan kami senang sekali. Karena kami dapat sumbangan 2 babi yang akan dimasak untuk para tamu yang tidak mengharamkan b2. Sugeng rawuh....matur nuwun.
Ajaran Mangun Wijaya -1 
Friday, June 26, 2009, 21:38 - Cerita Pengalaman Posted by Administrator
Saya mengikuti romo Mangun hampir 12 tahun. Banyak suka duka yang saya alami. Namun saya menemukan beberapa mutiara kehidupan beliau yang selama ini belum di ekspose di Media karena ini pengalaman pribadi. Yang berminat silahkan mengikuti




1.      
Seminari dan Pesantren

Suatu
hari Romo Mangun diundang untuk memberi rekoleksi para frater. Ketika mulai
memberikan konverensi beliau sudah menampilkan wajah kurang simpatik. Ia
berkata:”Anda adalah calon-calon pastor alias calon-calon aristocrat/bangsawan
gereja. Pernahkan anda baca dalam Injil bahwa yang sering membenci Yesus dan nggerpoli Yesus adalah para imam? Saya
prihatin dengan keadaan sekarang, karena para frater seperti radio satu band
yang hanya tahu Panti Rapih, kapel dan kampus”. Keadaan mulai memanas bahkan
ada peserta yang mulai marah. Tetapi Romo Mangun malah melanjutkan: ”Saya punya
ide, nanti sesudah doa malam, bagaimana kalau seminari ini dibakar. Sesudah itu
benteng yang membatasi Seminari dengan masyarakat dirobohkan. Saya ingin
seminari seperti pesantren. Para santri itu disamping
belajar ngaji atau sekolah, masih memasak dan hidup bersama masyarakat”.
Seorang frater yang tidak bisa menahan emosi bertanya:”Apa romo sedang punya
masalah kok sejak tadi marah-marah”. Dengan santai beliau menjawab:” Ya betul. Ada keprihatinan yang
sangat mendalam dalam diri saya”. “Masalah keprihatinan  apa Romo?” jawab penanya. “Saya prihatin
tentang kalian. Karena calon gembala umat, tidak pernah dilatih untuk ajur-ajer dengan masyarakat. Terlalu
banyak dijejali filsafat dan teologi”, lanjutnya. “Siapa yang pernah memimpin
rekoleksi para bakul tempe?
Siapa yang melayat kalau ada tetangga kita meninggal?  Sementara di luar tembok Seminari banyak orang
menderita kesusahan, di sini serba kecukupan“ Pertanyaan yang bagaikan
metraliur itu, membuat para frater tertunduk sambil membernarkan dalam hati.
Namun Romo Mangun belum mau berhenti,”Pakaian dicucikan, lantai kotor ada yang
ngepel, jendela pecah panggil pegawai. Itu mau jadi gembala macam apa? Belajar
untuk hidup memasyarakat apalagi menjadi gembala itu mesti dimulai bukan hanya dipikirkan.”


<<First <Back | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | Next> Last>>

 
    Login Admin        @copyright 2010 ADITUSOFT.COM     LoginMember