Saturday, January 30, 2010, 06:33 - Kotbah Posted by romoyatno
IMAN, HARAPAN DAN KASIHYeremia
Semua orang dipanggil untuk menjadi nabi para bangsa, menjadi berkat bagi semua orang. Semua orang dipanggil untuk berhasil atau sukses.
Korintus:
Hendaklah saling mengasihi, harapan agar semua orang berkembang dalam iman, harapan dan kasih.
Injil Lukas:
Yesus membaca Kitab Yesaya: "Roh Tuhan ada pada-Ku, Ia telah mengurapi Aku. Aku diutus untuk ..."
Semua orang membenarkan dia sebagai guru yang penuh kebijaksanaan. Namun, orang yang tidak suka, mengamat-amati Dia, bahkan berusaha untuk menjatuhkan ketenaran-Nya. Caranya, dengan bermain kotor: Mencari pengaruh untuk mendapatkan posisi. Maka, kritik yang dimunculkan adalah menggunakan Teknik Asal Usul: ”Whalah jadi orang yang hebat, tapi ming anakke (cuma anaknya) tukang kayu, kok sok hebat”.
Yesus: ”Seorang nabi dihormati di mana-mana tetapi tidak di daerahnya sendiri”.
Kalau orang sudah tidak senang, kebaikan apa pun yang diperbuat selalu dilihat kekurangannya. Namun, orang yang hanya sibuk mengamati kekurangan orang lain, biasanya malah semakin gagal. Seandainya berhasil, itu hanya sementara.
Contoh: Sebuah warung bakso yang laris. Orang yang iri hati, lalu memprovokasi masyarakat: ”Jangan beli bakso di situ, karena pemiliknya memelihara buta ijo (raksasa hijau). Atau, saat ramai orang jajan di warung itu, yang iri hati tiba-tiba datang dan melabrak Si pemilik warung: ”Kamu mesti pakai aji penglarisan (jimat pelaris). Hayo hook o ora? Nek ora buktekna. Opo kowe ora mesakake, nek sing dho tuku mrene dadi korbane ingon-ingonmu (Iya enggak? Kalau tidak buktikan. Apa kamu tidak kasihan kalau yang membeli ke sini menjadi korban tumbal piaraanmu.) Orang-orang yang biasanya datang beli bakso, pasti akan terpengaruh, lalu mungkin malah bisa marah dan mengusir Si penjual bakso tersebut.
Orang tersebut tidak tahu PAITANE (MODAL) YANG BANYAK. Bukan hanya modal duit, tetapi masa-masa perjuangan yang pahit getir, rekoso (sengsara). Modal kecil, dll., hanya TIBA-TIBA KEPINGIN SUKSES ATAU KEPINGIN SUKSES TIBA-TIBA. Lalu, orang berusaha untuk membeli warung yang laris tadi. Ketika warung tersebut sudah dimiliki, warung itu semakin tidak laris, bahkan semakin lama pembeli semakin berkurang. Bila tidak mau belajar bahwa larisnya suatu warung, bukan hanya ditentukan strategis, tetapi rasa masakannya, ramah-tamah, kecepatan dalam pelayanan, kebersihan, dll, ia akan gagal.
Dalam Injil hari ini, nampak juga bahwa Yesus termasyur, dikagumi banyak orang. Ketenaran dan keberhasilan Yesus rupanya menimbulkan iri hati dari orang-orang Farisi dan tokoh-tokoh masyarakat yang khawatir akan kehilangan pengaruhnya. Maka, untuk menaikkan pamor, mulai dengan lihai menggoyang Yesus. Caranya: mulai dengan "Alllaaah, hebat-hebata ming anakke Yusup dan Maria wae, bisa opo?" (Hallah, hebat seperti apa hanya anaknya Yusup dan Maria, bisa apa?) Mending aku, anak raden (bangsawan), kaya dan punya duit. Mereka demi gengsi, tidak mau berguru pada Yesus tetapi berusaha menjatuhkan Yesus.
Kalau bermain bersih:
Ada penjual bakso yang sukses. Tetangganya kepengin sukses juga, tapi tidak tahu caranya. Maka, dengan rendah hati, pada waktu warung sudah tutup, datang ke pemilik warung dan berguru. Berapa lama menanggung kepahitan? Rekasane opo (sengsaranya apa) ketika memulai. Bagaimana asal mulanya kok sekarang bisa berhasil, ada orang yang berhasil, terus koreksi diri, mengapa aku gagal atau tidak berhasil. Kalau misalnya saya jual es atau wedang (minuman) di dekat warung baksonya, apa diperbolehkan. Lalu, memperbaiki diri, kalau perlu berguru kepada yang telah berhasil agar bisa seperti mereka yang sukses. Keberhasilan akan dirasakan nikmat bila melalui perjuangan yang berat. Bila keberhasilan didapat dalam waktu singkat, singkat pula daya tahan keberhasilannya. Inilah yang dimaksud: Iman, harapan dan kasih.
Demikian pula yang minggu-minggu ini sedang terjadi di Yogya dan sedang kami bela. FPUB adalah salah satu organ masyarakat Yogya yang telah 13 tahun berkiprah bersama elemen-elemen masyarakat, aparat dan Kraton, sedikit banyak telah berperan dalam menjaga keamanan dan perdamaian Yogyakarta. Namun, orang-orang yang kepingin mempunyai kedudukan di Yogya, melontarkan Yogya Serambi Madina. Alasan yang ditawarkan: ”Kelihatan apik-apik, dakik-dakik dan kelihatannya akan semakin baik” Tetapi saya yakin, kalau mereka yang mengendalikan masyarakat Yogya, justru yang terjadi akan sebaliknya. Yang sudah berjalan baik akan diatur dengan cara mereka, sehingga yang sudah baik bisa jadi malah rusak. Karena ketika orang yang diomongkan yang indah-indah dan kelihatan sangat menguntungkan, biasanya menyembunyikan sesuatu yang akan sangat merugikan orang banyak. Sebaliknya, ketika kita duduk bersama, mencari kebaikan bersama, perbedaan bukan sebagai ancaman, tetapi rahmat dan kekayaan akan ketemu. Dan, berjalan dengan manis.
add comment
|
Friday, January 29, 2010, 06:37 - Sosial/Kemasyarakatan Posted by romoyatno
SKENARIO BESARJOGYA SERAMBI MADINA
Sebuah Opini
Setelah terlontar apa yang saya lakukan di Jogya Tv hari Senin yang lalu, lalu muncul pelbagai tanggapan simpang siur. Pelbagai tanggapan itu saya anggap sebagai bentuk perhatian terhadap saya dan kawan-kawan. Ada pula ide, usulan, solusi dan harapan serta dukungan, bahkan ada dagelan yang tidak lucu.
Terlepas dari apa yang diungkapkan oleh mereka yang mendukung penetapan Yogya sebagai serambi Madina dengan ungkapan yang manis-manis dan dakik-dakik, saya pikir saya pun berhak mengemukakan apa yang kami lihat, alami dan kami dengar. Pengamatan saya akan saya mulai saat mencuatnya nama Mbah Marijan. Mbah Marijan sebagai juru kunci yang diangkat oleh HB IX, bernatzar, meski gunung Merapi memuntahkan lahar yang mematikan, demi ketaatan kepada Ngarso Dalem, “saya tidak akan turun dari Kinah Rejo”. Saat itu kami yang mengendalikan Posko Merapi di pastoran Somohitan, memang sangat disibukkan karena sejak 25 April 2006 sampai Januari 2007 setiap hari menyantuni sekitar 2.700 orang dengan pelbagai kebutuhan dan kesibukan para relawan. Nama mbah Marijan semakin berkibar saat Bupati Sleman, Petugas dan bahkan HB X memerintahkan mbah Marijan turun dari Kinahrejo, beliau tetap tidak mau. Diam-diam, kelompok yang sudah lama mengintip Yoyakarta dengan pelbagai multi kultur dan heterogenitasnya, mencoba menggunakan kemashuran mbah Marijan sebagai simbol perlawanan. Judulnya adalah Mbah Marijan berani melawan Sultan. Padahal, saya mendengar sendiri dari HB X waktu kami pertemuan di Kraton Kilen, apa yang dikatakan mbah Marijan adalah bukti ketaatan seorang abdi Dalem.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa kelompok orang di Yogya yang tidak berkenan dengan gerakan kami di Yogya Interfaith Forum atau Forum Persaudaraan Umat Beriman yang telah 9 tahun berkiprah dengan Ngarso Dalem, ada yang kepingin mengubah Yogya sebagai kota yang seagama atau sealiran atau dalam satu kendali. Mereka lihai menggunakan kesempatan. Termasuk menggunakan ketenaran mbah Marijan untuk berani melawan Sultan. Beberapa orang menyebutkan kelompok ini disebut JAS (Jaringan Anti Sultan). Siapa saja mereka, tidak perlu dijelaskan, semoga jelas dengan tokoh Kharismatisnya mbah Marijan. Sehingga, mbah Marijan yang semula tidak mau turun dari Kinah rejo malah dielu-elukan sampai menjadi duta budaya, pembicara di pelbagai kesempatan. Seakan dia adalah simbul perlawanan rakyat terhadap sultan.
Namun, mbah Marijan jatuh, ketika ditawari jadi bintang Iklan dengan bayaran 80 juta (meski tidak semua ia nikmati, ada yang untuk mbangun jalan ada yang untuk wayangan dll). Jadilah ia sampai sekarang menjadi bintang iklan. Namun, di lereng Merapi, saya sangat terkenang, saat banjir lahar dingin dan gas beracun melanda Kali adem, Kali Gendol dan Kali Woro. Masyarakat pontang panting melarikan diri dari serangan gas beracun, relawan posko Merapi tidak kalah sibuknya karena mereka harus menyebarkan masker, mantol dan logistic untuk para pengungsi yang sangat-sangat panik. Setelah masyarakat menyingkir dari jangkauan awan panas, gas beracun, relawan kami kembali ke posko sambil marah-marah, karena mobil kehujanan lumpur, sehingga sangat kotor. Mereka sempat muni-muni (mengumpat) karena ketika lewat daerahnya mbah Marijan, mereka harus membayar retribusi Rp13.000. Bukan soal jumlah duitnya, tetapi orang mau menolong warga yang keracunan malah disuruh membayar. Dan, mbah Marijan kemana? Syutting! Sekarang ini di lereng Merapi orang seperti tabu menyebut nama Marijan karena mereka diingatkan akan kebohongan publik, katanya janji mau menunggu pos Kinah rejo sempai mati, tetapi ketika dapat duit lupa pada janji, bahkan perga-pergi untuk shooting.
Rupanya, strategi pemanfaatan ketenaran mbah Marijan gagal. Kemudian strategi berikut, Yogya sangat disibukkan oleh penerapan undang-undang pendidikan dan pembolehan pendirian masjid di setiap sekolahan agar anak-anak muslim bisa beribadah. Ini juga gagal. Namun, mereka berhasil masuk di pelbagai lembaga pemerintah dan rumah sakit serta sekolah-sekolah, sampai sekarang sangat berhasil. Sehingga, untuk menjadikan Yogya yang sesuai dengan pikiran mereka telah lama ditempuh.
Kemudian, dengan menjlomprongkan (menjerumuskan) Sultan untuk menjadikan capres dengan janji akan didukung oleh 6.000 jaringan se Indonesia, sempat menjadikan masyarakat Yogya terpecah. Akibatnya, Sultan dipermalukan.
Kemudian, ketika warga masyarakat Yogya selama ini sedang disibukkan untuk mempertahankan keistimewaan Yogyakarta sampai kami memunculkan kelompok GentaRaja (Gerakan Semesta Rakyat Yogya) yang terdiri dari 43 elemen masyarakat Yogya untuk menjaga dan mengawal keistimewaan Yogya agar tidak diobok-obok oleh mereka, sampai sekarang masih sangat alot.
Yang baru sebulan terjadi adalah wafatnya Gus Dur, sebagai tokoh multi kultur dan lintas iman, ini pun dimanfaatkan untuk menyusun strategi baru. Caranya adalah mendekati Gusti Joyokusumo (yang selama ini kontra dengan HB X) sebagai simbol perjuangan mereka. Karena, diharapkan Gusti Joyo akan segera menggantikan posisi gubernur. Maka, dalam pertemuan beberapa “kyai”, ide mereka diramu dengan sangat jitu dengan memanfaatkan pelbagai fenomena dengan sangat halus.
Yogya istimewa, multi kultur, multi Ras, ada budaya yang komplit dan hidup, barometer Indonesia, serta sejarah kekalifahan Yogyakarta dan Kedudukan HB sebagai “kalifatullah sayidin panoto gomo”. Point-point tersebut disimpulkan dalam suatu rumusan: ”Kalau begitu Yogyakarta kita sebut sebagai serambi Madina, kan sama to dengan Madina jaman Nabi Muhammad. Sebenarnya, kalau dilacak secara cermat, terjadi pembelokan pembelokan. Tapi, mereka gak urusan dengan dicap pembelokan atau apa pun. Yang penting, penetapan Yogya sebagai serambi Madina dapat terwujud. Meski dalam pelbagai keterangan kelihatannya halus-halus dan baik-baik, tetapi risiko atau ekses penetapan itu sangat berbahaya. Sejauh saya ikut selama pembicaraan dan apologi mereka, sangat jelas bahwa mereka sudah siap dengan pelbagai lapisan pendukung: Misalnya Gusti Joyo yang beda pendapat dengan HB X, Para kyai yang pro mereka, walikota Yogya Herry Yulianto, kelompok2 garis keras, Departemen Kebudyaan, dan beberapa orang yang mampu berbahasa dengan lincah. Dari argumen-aargumen mereka, sangat nampak bahwa semua sudah diputuskan. Debat atau pro-kontra nanti akan dipakai sebagai alibi bahwa keputusan Yogya sebagai serambi Madina telah didialogkan dengan semua lapisan masyarakat. Meski banyak yang tidak setuju dengan mereka telah dilontarkan, namun tidak pernah ditanggapi dengan jelas. Yang penting telah didialogkan. Jelas, bahwa bila kelak ditetapkan, mereka pasti akan mengendalikan seluruh kehidupan di Yogya itu dengan cara dan model mereka. Dan, sangat jelas bahwa kelompok mereka akan mendapat kesempatan hadir dan berkiprah di semua lini kehidupan. Tidak mengherankan larangan ini dan itu akan diterapkan.
Yang memprihatinkan, bahwa mereka yang tidak setuju, misalnya orang-orang Kristiani, malah rembukan sendiri di dapur. Wegah (malas) berhadapan langsung atau luweh-luweh (masa bodoh). Saya sendiri yang terpaksa harus berhadapan dengan mereka, kadang justru menjadi bahan tertawaan.
Hari Rabu kemarin, 27 Januari, sebenarnya kesempatan bagus untuk menyampaikan pelbagai keberatan dari pihak Katolik pada Gusti Joyokusumo dan Joko departemen kebudayaan yang dengan lihai menerangkan tata ruang kraton dalam filosofi jawa yang diarahkan ke walisongo dan kekalifahan untuk mendukung Yogya Serambi Madina. Namun, yang datang sangat sedikit dibanding dari yang diharapkan. Dan, bisa berhadapan dengan Gusti Joyo sudah sueneng banget (senang sekali). Dan, kepintaran/kelicikan mereka nampak jelas dengan mengatakan "masih ada acara lain, maka waktunya terbatas".
Saya mencoba menghadapi mereka baik dalam “diskusi” di Jogya TV (Senin 25 Januari) di mana saya dikerubut 3 orang, dan di Gubernuran, Selasa 26 Januari, saya dikerubut 6 orang pakar arsitek, pakar sejarah dan ilmu agama Islam, saya mencoba menghadapkan pada situasi kongkrit di masyarakat, tapi moderator banyak memberi kesempatan tanggapan kepada teman-tema mereka. Namun, tanggapan yang kayaknya tidak setuju dengan pandangan Jogya serambi Madina, tidak mendapatkan tanggapan yang serius. POKOKNYA GOAL DULU menjadi makin jelas.
Harapan kami hanya pada Militer dan Sultan. Hari ini, Kamis 28 Januari, saya telah menghadap Komandan Korem di Yogya, dan tadi saya menelpon sekretaris Pribadi Sultan untuk bisa menghadap HB X besuk selasa 2 Feb (tidak usah meminta tolong mas Putut).
Pendapat HB X
Sebenarnya Sulta sungguh keberatan dengan wacana Yogya Serambi Madina karena pasti akan punya dampak negatif yang besar. Kalau dihitung manfaat dan mudaratnya, lebih banyak mudaratnya. Beliau telah beberapa kali sms bahwa wacana Yogya Serambi Madina BUKAN DARI KRATON dan BUKAN DARI SULTAN. Wacana itu jangan dikaitkan dengan kraton. Namun, hampir semua pembicara (yang sudah disetel) semua berbicara kaitan antara Kasultanan dan Madina. Jadi, sekali lagi HB X akan dipepetkan lagi. Meski belum maksimum, kami sudah membuat jaringan di Gentaraja, Korem dan pelbagai pergerakan masyarakat Yogya untuk menolak wacana tersebut.
Istilahnya kami
1. Sepeda motor yang rusak jangan diganti merek atau dicat, karena tidak akan bertambah baik.
2. Yang harus diperbaiki isinya, bukan namanya.
3. Nama akan semakin baik kalau si penjahat menjadi orang baik.
4. Sebaliknya, pak Sastra akan mendapatkan label yang terkenal karena bertahun-tahun membuat emping, sehingga menjadi Sastra Emping.
5. Di Wonogiri, tahun 1994, saat akan dikunjungi Suharto, semua genting atap rumah rumah harus ditulisi “B3B (bebas tiga buta)”, tapi saat saya mampir di suatu rumah dan bertanya yang di genting itu tulisan apa mbah? Jawabnya: ”Lha nggih mboten ngertos moco lan nulis" (Lha ya tidak tahu membaca dan menulis).
6. Sekarang ini sekolah-sekolah negeri sudah dimasuki oleh guru-guru yang anggota ALKACUNG) aliansi kathok congklang, sehingga yang Katolik akan sangat terpojok. Pembangunan rumah ibadah/gereja juga sudah sangat sulit. Lha gimana nanti kalau mereka berhasil menetapkan Yogya Serambi Madina?
|