Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr
( Romo Yatno )
   
Kunjungan FPUB 
Tuesday, July 27, 2010, 18:28 - Lintas Iman Posted by romoyatno



Kunjungan wakil Asia Pasific ke FPUB

Hari Minggu 25 Juli 2010, Forum Persaudaraan Umat Beriman Yogyakarta (FPUB) mendapat kunjungan perwakilan dari sebelas Negara Asia Pasifik (antara lain: Myanmar, Kamboja, Vietnam, Papua New Guinea, Timor Leste, Thailand, Burma, Philiphina, dll). Acara tersebut dipandu oleh Kepala Diklat Departemen Luar Negeri Indonesia, Arief Hidayat.

Katanya, beberapa perwakilan tersebut diutus ke Indonesia, khususnya di Yogyakarta, untuk belajar bagaimana mengkondisikan perdamaian lintas agama dan kepercayaan seperti yang telah sekian lama terwujud di Yogyakarta. Kedatangan mereka disambut secara sederhana di Pesantren Nurul Umahat yang menjadi salah satu tempat warga FPUB sering berkumpul. Memang menarik dalam diskusi minggu siang tersebut. Kebanyakan dari mereka bertanya, apa yang kami kerjakan sehingga umat Islam tidak canggung bergaul dengan masyarakat non Islam. Kami menjelaskan bahwa hubungan dekat itu tidak menyeluruh, namun cukup memberi warna di Yogyakarta. Resepnya sederhana, hubungan dekat itu DIMULAI. Kami tidak pertama-tama melihat perbedaan, melainkan melihat kesamaan. Sebab, kalau pertemuan itu sudah diawali dengan melihat perbedaan, yang terjadi kemudian adalah fanatisme.

Hubungan dekat juga dimulai melalui proses yang panjang dan personal. Apalagi kalau sering dipertemukan untuk menggarap permasalahan kemanusiaan, perbaikan tatanan alam, dll. Singkatnya, apa yang menjadi masalah umum, kami mulai kerjakan dalam kebersamaan.

Para tamu tersebut juga mempertanyakan: Bagaimana tantangan dari mereka yang tidak setuju dengan pendekatan gaya FPUB. Kami menjawab, tantangan selalu ada. Sebab, ketika setiap orang bergerak mesti beresiko, mendapatkan tantangan. Namun, kami memulai dari mereka yang terbuka untuk bekerja bersama. Biarlah orang tidak setuju, namun ternyata relasi baik itu membuahkan hidup lebih tenteram. Kadang tantangan juga menohok kami, mustahil FPUB mampu mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Kami sadar, memang pancingan itu sering menggelantung di depan mata. Namun, mengacu nasihat romo Mangunwijaya: Think Globaly Act Locally. Yang berarti apa yang kami kerjakan dalam tingkat lokal diharapkan mampu membawa dampak ke wilayah yang lebih luas. Buktinya gerakan yang mirip FPUB juga mulai tumbuh di banyak tempat.

Namun, yang menjadi tantangan ekstern, yang kadang menjadi kurang nyaman adalah sering kami kesulitan mengajak kawan-kawan kami untuk berani mulai berelasi manusiawi dan natural dengan kawan-kawan yang berbeda. Ada kecenderungan bahwa orang yang sudah merasa nyaman, mereka tidak ingin mendapat masalah baru saat mulai membuka diri terhadap orang yang berkeyakinan lain.

Sesudah menyaksikan foto-foto dan film singkat FPUB yang berjudul Yogya the city of tolerance, para tamu mengunjungi sisa kerajaan Mataram kuno dan masjid Agung di Kotagedhe. Situs kerajaan Mataram kuno dan masjid Agung tersebut menggambarkan perpaduan model bangunan Hindu dan Islam. Hal ini dimaksudkan bahwa sejak zaman Mangkubumi atau Hamengkubuwana I di Yogyakarta sudah ada toleransi lintas iman (Hindu dan Islam).

Selanjutnya para tamu kami antar ke Sanggar Candi Sapto Renggo, yakni pusat Penghayat Kerohanian Sapta Dharma. Di tempat itu kami banyak menjawab pertanyaan para tamu tentang kegiatan kebersamaan dengan teman lain yang berbeda agama. Kami menjelaskan bahwa meski di Indonesia hanya diakui 6 agama resmi, namun FPUB tetap merangkul mereka yang menyembah Tuhan, apa pun sebutannya, untuk diajak bersaudara. Dan, itu sudah berjalan 14 tahun. Mereka juga menyaksikan bagaimana para penghayat Sapto Dharma melakukan doa Sujud dengan cara yang cukup magis. Setelah berdiskusi panjang lebar, lalu dilanjutkan makan siang dengan senang. Beberapa tamu banyak yang berkomentar bahwa baru pertama kali ini mereka bisa makan bersama dalam konteks perbedaan agama dan kepercayaan namun bisa merasakan kebersamaan dan persaudaraan.

Karena keterbatasan waktu, para tamu segera bergeser dari Sanggar Candi Sapta Rengga menuju ke Keraton Yogyakarta guna melihat kebudayaan multi kultur yang masih dipertahankan dalam bentuk budaya Keraton Yogyakarta.

Kami sempat bertanya kepada para tamu, mengapa mereka jauh-jauh dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit melakukan kunjungan ke FPUB. Kebanyakan dari mereka, mereka justru ingin belajar dari kehidupan kongkrit (bukan hanya konsep) agar di Negara mereka bisa dipraktikkan. Sebab, pada dasarnya setiap manusia merindukan suasana kebersamaan dan perdamaian meski pun berbeda dalam penghayatan imannya.

Somohitan 26 Juli 2010

Turbin 
Monday, July 19, 2010, 16:10 - Sosial/Kemasyarakatan Posted by romoyatno


MIKRO HIDRO SOMOHITAN
AIR KEHIDUPAN LERENG MERAPI

Y. Suyatno Hadiatmojo Pr


Bersahabat dengan alam ternyata membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran, dll. Ternyata, alam mempunyai perasaan juga. Saya ingat kegiatan untuk menjaga kelestarian alam di lereng Merapi, itu telah kami mulai sejak tahun 2004. Kala itu bersama masyarakat, kami mengadakan peringatan sepuluh tahun bencana Wedhus Gembel (awan panas dari kawah gunung yang membumbung ke langit). Pralon air karya Rm. Rutten SJ termasuk korban awan panas, hingga air yang mestinya bisa memberi minuman segar malah tertutup oleh abu, bekas terbakarnya hutan lereng Barat Merapi. Seperti tergugah oleh tangisan alam, kami berniat, bersama seluruh warga, untuk menjaga dan merawat alam dengan menanam pelbagai tanaman kayu, perindang dan penjaga mata air, berupa bibit preh, beringin, gayam, enau, mahoni dll. Tanaman yang terkumpul adalah murni dari masyarakat: pesantren, polisi, warga di seputar Sleman, semua kurang lebih berjumlah 17.000 pohon. Ditanam bersama-sama, seperti semut yang menggotong sobekan daun.

Sejak itu pemerintah dan pelbagai kelompok dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun teruss menanami pohon. Bahkan rotary Club, Budha Su Chi dari Taiwan pun ikut menyumbangkan 40.000 pohon mahoni untuk ditanam di lereng Merapi. Demikian pula setiap acara adat Mertibumi tahunan di Girikerto, Somohitan, selalu kami adakan acara baku penanaman pohon. Tidak ketinggalan, kesempatan-kesempatan acara Gerejani kami adakan acara penanaman pohon. Dua tahun yang lalu, saat Mgr. Suharyo memberi Sakramen Krisma di Somohitan, juga menyediakan pohon buah manggis, durian, jeruk, duku dan rambutan sejumlah krismawan-krismawati. Saat itu, selesai Ekaristi agung, Mgr. Suharyo memberikan kenangan berupa cenderamata dan sebuah pohon kepada para krismawan-krismawati untuk ditanam di rumah masing-masing.

Namun tantangan selalu menyertai, pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan sesaat banyak yang menjual pasir di lahan mereka, tanpa sadar merusak alam dan membahayakan keberadaan mata air di lereng Merapi. Karena itu, terpaksa saya melaporkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk bersabda dan menghentikan pengrusakan alam di lereng Merapi. Ternyata betul, waktu beliau memberi Sabda Narendra saat acara Mertibumi di Girikerto 9 Februari 2010, beliau mengatakan:”Alam adalah sahabat kita, alam mampu memberikan bencana namun bisa juga memberikan berkah kepada manusia. Bila manusia merawat dan menjaga alam, alam akan memberikan kesuburan dan barokah kepada manusia. Karena itu, saya minta pengrusakan alam dan penggalian pasir di pekarangan harap segera dihentikan. Bila tidak berjalan, saya akan datang dan menghentikan kegiatan pengrusakan alam”. Kontan para pejabat yang hadir seperti kebakaran jenggot, segera setelah acara selesai, mereka turun ke lapangan untuk menghentikan kegiatan pengrusakan alam.

Ternyata benar, dengan terjaganya alam, alam akan memberikan anugerah kepada warga masyarakat. Mata air yang dahulu dikhawatirkan hilang mulai memancar lagi. Karena itu muncul ide dalam diri saya untuk memanfaatkan air yang lewat di depan pastoran Somohitan, siapa tahu menghasilkan listrik.


Ide pembuatan Mikro Hidro sudah kami pikirkan cukup lama bahkan tempatnya sudah kami siapkan, percobaan telah kami lakukan beberapa kali. Akhirnya, kami mendapatkan sponsor dari Bpk. Bimo UD Rekayasa Pakem yang membantu kami merangkai Turbin. Saya coba menyiapkan tempat, dinamo, persediaan air dan teknik ala kadarnya (Maklum waktu di Seminari tidak diajari teknik listrik kecuali saat jadi anggota podium). Rakitan dan rangkaian membutuhkan waktu dua minggu. Sampai hari Rabu, 9 Juni 2010, semua sudah terpasang, namun hantaman air belum mampu menggerakkan turbin secara cepat. Kemudian saya mulai membuat fantasi:

Kalau jerami dengan berat 100 kg. diikat dengan kuat lalu dijatuhkan ke tubuh manusia tentu akan menimbulkan rasa sakit, namun kalau jerami dengan berat yang sama namun tidak diikat alias tersebar untuk menimbun seseorang, paling cuma gatal dan pengap. Hasil “meditasi” itu kami wujudkan bahwa air yang menghantam Turbin mesti langsung dari pipa, bukan air yang dipancarkan. Karena itu kami coba beli pipa di Jogja, segera kami potong untuk mengalirkan air langsung menimpa roda turbin. Da...n, dinamo bisa menghasilkan listrik cukup lumayan, bisa untuk 20 lampu neon, bahkan untuk menggerakkan bor beton pun lancar-lancar saja. Sekarang tinggal distribusi untuk kebutuhan pastoran dan posko. Warga sekitar ikut bersuka cita, ada yang mengusulkan untuk diadakan syukuran dan kenduri.

Itulah alam. Bila kita bersahabat ternyata amat besar kontribusinya untuk manusia. Alam-ku sahabatku! Somohitan, 11 Juni 2010


<<First <Back | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | Next> Last>>

 
    Login Admin        @copyright 2010 ADITUSOFT.COM     LoginMember