Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr
( Romo Yatno )
   
Turbin 
Monday, July 19, 2010, 16:10 - Sosial/Kemasyarakatan Posted by romoyatno


MIKRO HIDRO SOMOHITAN
AIR KEHIDUPAN LERENG MERAPI

Y. Suyatno Hadiatmojo Pr


Bersahabat dengan alam ternyata membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran, dll. Ternyata, alam mempunyai perasaan juga. Saya ingat kegiatan untuk menjaga kelestarian alam di lereng Merapi, itu telah kami mulai sejak tahun 2004. Kala itu bersama masyarakat, kami mengadakan peringatan sepuluh tahun bencana Wedhus Gembel (awan panas dari kawah gunung yang membumbung ke langit). Pralon air karya Rm. Rutten SJ termasuk korban awan panas, hingga air yang mestinya bisa memberi minuman segar malah tertutup oleh abu, bekas terbakarnya hutan lereng Barat Merapi. Seperti tergugah oleh tangisan alam, kami berniat, bersama seluruh warga, untuk menjaga dan merawat alam dengan menanam pelbagai tanaman kayu, perindang dan penjaga mata air, berupa bibit preh, beringin, gayam, enau, mahoni dll. Tanaman yang terkumpul adalah murni dari masyarakat: pesantren, polisi, warga di seputar Sleman, semua kurang lebih berjumlah 17.000 pohon. Ditanam bersama-sama, seperti semut yang menggotong sobekan daun.

Sejak itu pemerintah dan pelbagai kelompok dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun teruss menanami pohon. Bahkan rotary Club, Budha Su Chi dari Taiwan pun ikut menyumbangkan 40.000 pohon mahoni untuk ditanam di lereng Merapi. Demikian pula setiap acara adat Mertibumi tahunan di Girikerto, Somohitan, selalu kami adakan acara baku penanaman pohon. Tidak ketinggalan, kesempatan-kesempatan acara Gerejani kami adakan acara penanaman pohon. Dua tahun yang lalu, saat Mgr. Suharyo memberi Sakramen Krisma di Somohitan, juga menyediakan pohon buah manggis, durian, jeruk, duku dan rambutan sejumlah krismawan-krismawati. Saat itu, selesai Ekaristi agung, Mgr. Suharyo memberikan kenangan berupa cenderamata dan sebuah pohon kepada para krismawan-krismawati untuk ditanam di rumah masing-masing.

Namun tantangan selalu menyertai, pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan sesaat banyak yang menjual pasir di lahan mereka, tanpa sadar merusak alam dan membahayakan keberadaan mata air di lereng Merapi. Karena itu, terpaksa saya melaporkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk bersabda dan menghentikan pengrusakan alam di lereng Merapi. Ternyata betul, waktu beliau memberi Sabda Narendra saat acara Mertibumi di Girikerto 9 Februari 2010, beliau mengatakan:”Alam adalah sahabat kita, alam mampu memberikan bencana namun bisa juga memberikan berkah kepada manusia. Bila manusia merawat dan menjaga alam, alam akan memberikan kesuburan dan barokah kepada manusia. Karena itu, saya minta pengrusakan alam dan penggalian pasir di pekarangan harap segera dihentikan. Bila tidak berjalan, saya akan datang dan menghentikan kegiatan pengrusakan alam”. Kontan para pejabat yang hadir seperti kebakaran jenggot, segera setelah acara selesai, mereka turun ke lapangan untuk menghentikan kegiatan pengrusakan alam.

Ternyata benar, dengan terjaganya alam, alam akan memberikan anugerah kepada warga masyarakat. Mata air yang dahulu dikhawatirkan hilang mulai memancar lagi. Karena itu muncul ide dalam diri saya untuk memanfaatkan air yang lewat di depan pastoran Somohitan, siapa tahu menghasilkan listrik.


Ide pembuatan Mikro Hidro sudah kami pikirkan cukup lama bahkan tempatnya sudah kami siapkan, percobaan telah kami lakukan beberapa kali. Akhirnya, kami mendapatkan sponsor dari Bpk. Bimo UD Rekayasa Pakem yang membantu kami merangkai Turbin. Saya coba menyiapkan tempat, dinamo, persediaan air dan teknik ala kadarnya (Maklum waktu di Seminari tidak diajari teknik listrik kecuali saat jadi anggota podium). Rakitan dan rangkaian membutuhkan waktu dua minggu. Sampai hari Rabu, 9 Juni 2010, semua sudah terpasang, namun hantaman air belum mampu menggerakkan turbin secara cepat. Kemudian saya mulai membuat fantasi:

Kalau jerami dengan berat 100 kg. diikat dengan kuat lalu dijatuhkan ke tubuh manusia tentu akan menimbulkan rasa sakit, namun kalau jerami dengan berat yang sama namun tidak diikat alias tersebar untuk menimbun seseorang, paling cuma gatal dan pengap. Hasil “meditasi” itu kami wujudkan bahwa air yang menghantam Turbin mesti langsung dari pipa, bukan air yang dipancarkan. Karena itu kami coba beli pipa di Jogja, segera kami potong untuk mengalirkan air langsung menimpa roda turbin. Da...n, dinamo bisa menghasilkan listrik cukup lumayan, bisa untuk 20 lampu neon, bahkan untuk menggerakkan bor beton pun lancar-lancar saja. Sekarang tinggal distribusi untuk kebutuhan pastoran dan posko. Warga sekitar ikut bersuka cita, ada yang mengusulkan untuk diadakan syukuran dan kenduri.

Itulah alam. Bila kita bersahabat ternyata amat besar kontribusinya untuk manusia. Alam-ku sahabatku! Somohitan, 11 Juni 2010

Calon Kepala Daerah Politikus The Last Minute 
Wednesday, May 12, 2010, 05:01 - Sosial/Kemasyarakatan Posted by romoyatno



POLITIKUS THE LAST MINUTE


PARA CALON BUPATI MINTA DOA RESTU
Seperti saat-saat yang lalu, sungguh menarik mengamati sepak terjang para kandidat menjelang pemilihan Calon Legislatif (Caleg) atau yang kini sedang ramai adalah menjelang Pilihan Kepala Daerah (Pilkada). Menariknya adalah betapa mereka sibuk menggunakan pelbagai macam cara untuk mencari dukungan masyarakat.

Tulisan berikut berdasarkan yang saya lihat dan saya alami sendiri dalam mengamati mereka. Rata-rata, mereka itu seperti yang telah dibahas di Metro TV, yakni Politikus [i}The last minute atau kalau bahasa kampung-nya Politikus Karbitan. Artinya, seakan-akan mereka menjadi orang yang berpikir Nasionalis, atau sangat agamis dan sangat bermasyarakat. Namun, itu semua dibuat menjelang hari-hari pencoblosan. Bahkan, kadang-kadang menjadi lucu, karena biasanya tidak pernah muncul di kesibukan masyarakat, tiba-tiba muncul dan seakan-akan peduli dalam segala bidang kehidupan. Tetapi aneh, orang yang tidak biasa dipaksakan seakan-akan biasa. Seperti orang pendiam yang memaksakan diri menjadi orang ramah.

Saya mengambil contoh, baik dalam pemilu yang lalu maupun dalam pilkada Sleman. Begitu banyak Caleg silih berganti datang ke pastoran Somohitan. Mungkin, selama ini saya dianggap salah satu Key Person di lereng barat gunung Merapi. Silih berganti para caleg datang dengan alasan Silaturohmi, kenalan dan ujung-ujungnya minta dukungan. Demikian pula menjelang Pilkada 23 Mei mendatang. Kamto, Hafids Asrhom, Heru(Wakil Zaelani), Yuni (Wakil Sri Purnomo) datang ke pastoran dengan alasan yang sama. Tapi, menarik mengamati cara mereka. Ada yang menjelang perayaan Paskah mengirim karangan bunga dengan gambar besar di tengahnya dengan tulisan besar-besar. Tetapi maaf, tulisan dan gambar kami copot biar tidak menyolok mata, karena bisa menimbulkan masalah. Ada yang tiba-tiba memasang spanduk di halaman pastoran Somohitan, tetapi langsung dicopot oleh Polisi. Ada yang dengan anak buahnya datang ke pastoran, seakan-akan akrab dan bicara mengenai kemasyarakatan dan litani pujian untuk paroki Somohitan atas apa yang telah dikerjakan bersama masyarakat di lereng Merapi. Ada yang mengutus wakilnya dengan pesan kalau kelak terpilih AKAN mendukung kegiatan romo, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dll. Akan ini akan itu. Buntutnya: ”Mohon mengajak anggota jemaat romo untuk memilih / mencoblos gambar si Anu nomor sekian.

Jawabanku biasanya sama untuk semua yang datang.
1. Saya merasa mendapat kehormatan atas kerawuhan bapak ibu dan saudara-saudara. Namun saya di Somohitan satu pihak saya anggota masyarakat lereng Merapi, kedua pimpinan jemaat Katolik di Somohitan. Karena itu saya tidak boleh mengarahkan untuk memilih si A atau si B.

2. Saya sudah sering mengatakan baik kepada masyarakat maupun kepada jemaat Katolik Somohitan bahwa, dalam memilih baik pimpinan masyarakat, wakil rakyat atau siapa pun perlu macam-macam pertimbangan:

• Apakah sudah mengetahui track record calon?
• Apakah mereka sudah berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat?
• Apakah sudah mengenal dan dikenal masyarakat?
• dll.


3. Kok sering terjadi pertama kali kenal langsung minta dukungan. Saya harus memberi kebebasan kepada mereka untuk memilih yang dipilih oleh mereka.

4. Masyarakat sekarang ini sebenarnya agak apatis terhadap para caleg atau ca Kada. Karena itu, muncul sikap-sikap yang kurang sehat: Mau mencoblos si A atau Si B tergantung memberi berapa? Bukan AKAN, tetapi yang TELAH. Misalnya untuk saat ini, ada yang memberi Rp 20 ribu per-orang, yang lain Rp 40 ribu. Tentu masyarakat akan memilih yang memberi lebih.

5. Tetapi, ada contoh yang tidak memberi uang, namun dipilih warga, Lurah Girikerto dan Purwobinangun misalnya. Mereka tidak bermodal dana waktu mencalonkan Lurah, tetapi mereka menang mayoritas karena RAJIN MELAYAT saat ada yang meninggal. Sederhana dan murah meriah.

6. Mestinya, siapa pun yang mencalonkan jadi caleg atau ca Kada, sudah mempersiapkan dengan pelbagai macam aksi yang bermanfaat bagi masyarakat. Yang sering menjadi pembicaraan masyarakat adalah para Calon Karbitan, yakni persiapan kurang matang, namun berambisi menjadi Kepala daerah. Akibatnya, cara-cara yang digunakan kurang manis.

7. Salah satu calon mendengarkan dengan kecewa. Namun, ada yang bertanya: ”Terus di waktu yang tersisa ini, kami harus bagaimana romo?’ Saya jawab: ”Ya… banyak berdoa saja. Atau, Silaturahmi sebanyak-banyaknya. Tapi, jangan jadi Cakada TERPADU”. Maksud TERPADU? TERGANTUNG PADA DUKUN atau TERGANTUNG PADA DUIT”. Spontan mereka: ”Haaa..ha“, namun bukan tertawa lepas, melainkan tertawa agak kecut.

8. Ada catatan khusus, bahwa seorang calon Bupati Sleman Sri Purnomo diduga agak rikuh (malu hati) ke pastoran Somohitan. Ada yang mengatakan mungkin berkaitan dengan kasus Jembatan yang lalu. Karena pembangunan jembatan Nglempong yang saya rancang dan dikerjakan kerja bakti masyarakat, saat usai diadakan syukuran bersama. Namun, tiga minggu berikutnya Sri Purnomo membawa tukang foto, wartawan, massa, dan meresmikan jembatan tersebut tanpa ba bi bu dengan masyarakat yang selama ini banting tulang membangun jembatan. Ada pula yang mengatakan bahwa karena kedekatan saya dengan Sultan HB X menyebabkan Bapak Sri Puronomo enggan datang ke pastoran.

Kesimpulan:
Seperti kebanyakan orang muda sekarang, yang disukai masakan instan, mendapat cepat, nikmat dan ora ragat (tanpa biaya), itu rupanya mempengaruhi Caleg, ca Kada kita.

9 Mei 2010
Romo Yatno


<<First <Back | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | Next> Last>>

 
    Login Admin        @copyright 2010 ADITUSOFT.COM     LoginMember