Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr
( Romo Yatno )
   
Calon Kepala Daerah Politikus The Last Minute 
Wednesday, May 12, 2010, 05:01 - Sosial/Kemasyarakatan Posted by romoyatno



POLITIKUS THE LAST MINUTE


PARA CALON BUPATI MINTA DOA RESTU
Seperti saat-saat yang lalu, sungguh menarik mengamati sepak terjang para kandidat menjelang pemilihan Calon Legislatif (Caleg) atau yang kini sedang ramai adalah menjelang Pilihan Kepala Daerah (Pilkada). Menariknya adalah betapa mereka sibuk menggunakan pelbagai macam cara untuk mencari dukungan masyarakat.

Tulisan berikut berdasarkan yang saya lihat dan saya alami sendiri dalam mengamati mereka. Rata-rata, mereka itu seperti yang telah dibahas di Metro TV, yakni Politikus [i}The last minute atau kalau bahasa kampung-nya Politikus Karbitan. Artinya, seakan-akan mereka menjadi orang yang berpikir Nasionalis, atau sangat agamis dan sangat bermasyarakat. Namun, itu semua dibuat menjelang hari-hari pencoblosan. Bahkan, kadang-kadang menjadi lucu, karena biasanya tidak pernah muncul di kesibukan masyarakat, tiba-tiba muncul dan seakan-akan peduli dalam segala bidang kehidupan. Tetapi aneh, orang yang tidak biasa dipaksakan seakan-akan biasa. Seperti orang pendiam yang memaksakan diri menjadi orang ramah.

Saya mengambil contoh, baik dalam pemilu yang lalu maupun dalam pilkada Sleman. Begitu banyak Caleg silih berganti datang ke pastoran Somohitan. Mungkin, selama ini saya dianggap salah satu Key Person di lereng barat gunung Merapi. Silih berganti para caleg datang dengan alasan Silaturohmi, kenalan dan ujung-ujungnya minta dukungan. Demikian pula menjelang Pilkada 23 Mei mendatang. Kamto, Hafids Asrhom, Heru(Wakil Zaelani), Yuni (Wakil Sri Purnomo) datang ke pastoran dengan alasan yang sama. Tapi, menarik mengamati cara mereka. Ada yang menjelang perayaan Paskah mengirim karangan bunga dengan gambar besar di tengahnya dengan tulisan besar-besar. Tetapi maaf, tulisan dan gambar kami copot biar tidak menyolok mata, karena bisa menimbulkan masalah. Ada yang tiba-tiba memasang spanduk di halaman pastoran Somohitan, tetapi langsung dicopot oleh Polisi. Ada yang dengan anak buahnya datang ke pastoran, seakan-akan akrab dan bicara mengenai kemasyarakatan dan litani pujian untuk paroki Somohitan atas apa yang telah dikerjakan bersama masyarakat di lereng Merapi. Ada yang mengutus wakilnya dengan pesan kalau kelak terpilih AKAN mendukung kegiatan romo, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dll. Akan ini akan itu. Buntutnya: ”Mohon mengajak anggota jemaat romo untuk memilih / mencoblos gambar si Anu nomor sekian.

Jawabanku biasanya sama untuk semua yang datang.
1. Saya merasa mendapat kehormatan atas kerawuhan bapak ibu dan saudara-saudara. Namun saya di Somohitan satu pihak saya anggota masyarakat lereng Merapi, kedua pimpinan jemaat Katolik di Somohitan. Karena itu saya tidak boleh mengarahkan untuk memilih si A atau si B.

2. Saya sudah sering mengatakan baik kepada masyarakat maupun kepada jemaat Katolik Somohitan bahwa, dalam memilih baik pimpinan masyarakat, wakil rakyat atau siapa pun perlu macam-macam pertimbangan:

• Apakah sudah mengetahui track record calon?
• Apakah mereka sudah berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat?
• Apakah sudah mengenal dan dikenal masyarakat?
• dll.


3. Kok sering terjadi pertama kali kenal langsung minta dukungan. Saya harus memberi kebebasan kepada mereka untuk memilih yang dipilih oleh mereka.

4. Masyarakat sekarang ini sebenarnya agak apatis terhadap para caleg atau ca Kada. Karena itu, muncul sikap-sikap yang kurang sehat: Mau mencoblos si A atau Si B tergantung memberi berapa? Bukan AKAN, tetapi yang TELAH. Misalnya untuk saat ini, ada yang memberi Rp 20 ribu per-orang, yang lain Rp 40 ribu. Tentu masyarakat akan memilih yang memberi lebih.

5. Tetapi, ada contoh yang tidak memberi uang, namun dipilih warga, Lurah Girikerto dan Purwobinangun misalnya. Mereka tidak bermodal dana waktu mencalonkan Lurah, tetapi mereka menang mayoritas karena RAJIN MELAYAT saat ada yang meninggal. Sederhana dan murah meriah.

6. Mestinya, siapa pun yang mencalonkan jadi caleg atau ca Kada, sudah mempersiapkan dengan pelbagai macam aksi yang bermanfaat bagi masyarakat. Yang sering menjadi pembicaraan masyarakat adalah para Calon Karbitan, yakni persiapan kurang matang, namun berambisi menjadi Kepala daerah. Akibatnya, cara-cara yang digunakan kurang manis.

7. Salah satu calon mendengarkan dengan kecewa. Namun, ada yang bertanya: ”Terus di waktu yang tersisa ini, kami harus bagaimana romo?’ Saya jawab: ”Ya… banyak berdoa saja. Atau, Silaturahmi sebanyak-banyaknya. Tapi, jangan jadi Cakada TERPADU”. Maksud TERPADU? TERGANTUNG PADA DUKUN atau TERGANTUNG PADA DUIT”. Spontan mereka: ”Haaa..ha“, namun bukan tertawa lepas, melainkan tertawa agak kecut.

8. Ada catatan khusus, bahwa seorang calon Bupati Sleman Sri Purnomo diduga agak rikuh (malu hati) ke pastoran Somohitan. Ada yang mengatakan mungkin berkaitan dengan kasus Jembatan yang lalu. Karena pembangunan jembatan Nglempong yang saya rancang dan dikerjakan kerja bakti masyarakat, saat usai diadakan syukuran bersama. Namun, tiga minggu berikutnya Sri Purnomo membawa tukang foto, wartawan, massa, dan meresmikan jembatan tersebut tanpa ba bi bu dengan masyarakat yang selama ini banting tulang membangun jembatan. Ada pula yang mengatakan bahwa karena kedekatan saya dengan Sultan HB X menyebabkan Bapak Sri Puronomo enggan datang ke pastoran.

Kesimpulan:
Seperti kebanyakan orang muda sekarang, yang disukai masakan instan, mendapat cepat, nikmat dan ora ragat (tanpa biaya), itu rupanya mempengaruhi Caleg, ca Kada kita.

9 Mei 2010
Romo Yatno

Gerakan Lintas Iman 
Wednesday, March 3, 2010, 18:12 - Lintas Iman Posted by romoyatno

KIRAB LINTAS IMAN
(Peringatan FPUB hari ke 2)

Gerakan Lintas iman yang diprakarsai oleh Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) hari ke dua berlangsung di pusat kegiatan Gedung Pamungkas sisi timur Gor Kridosono, Jumat 26 Februari 2010. Kegiatan hari ke dua diawali dengan Lomba Lukis anak SD, diikuti sekitar 163 peserta, itu cukup menarik karena ada beberapa hadiah: Juara pertama mendapat hadiah Tropi dari HB X, Kep. Din. Olah Raga Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wali kota Yogyakarta. Serta, uang pembinaan. Sedangkan juara harapan mendapat tropi dari FPUB dan sertifikat dari Kartika Affandy. Yang menarik lagi, karena 10 besar lukisan yang dapat juara, lukisan mereka akan diikutsertakan dalam Lomba Lukis Anak di Republik Cheko. Ini atas inisiatif KH. Zaiffudin, tokoh Ahmadiyah Yogyakarta. Asyiik, menarik karena anak-anak dengan pelbagai tingkah polahnya, bahkan cuek bebek dengan segala peraturan. Padahal, tema besarnya adalah: “Indahnya bersahabat“. Misalnya, ada kakak beradik yang sama-sama ikut lomba, lalu lukisan kakaknya diminta adik, padahal belum selesai, terpaksa si kakak melukis lagi. Ada pula yang satu lukisan digambar dua orang karena kebetulan anak kembar. Dari seluruh peserta siang itu sudah terpilih 10 nominasi, kebetulan jurinya dari utusan Kartika Affandi dan pelukis kaki dari Hipenca (Himpunan penyandang cacat). Ibu Kartika Affandy saat itu menghadiahkan Lukisan Pasar Bali untuk dilelang dan (kalau laku) dananya akan diserahkan ke FPUB untuk melanjutkan kegiatan perdamaian lintas Iman di Yogyakarta. Selesai lomba lukis, seluruh peserta dan panitia mempersiapkan acara sore hari. Yakni, Kirab lintas Iman dan Malam Musik Kolaborasi.

Acara Kirab Lintas Iman dimulai dari halaman parkir Gereja Jetis. Kebetulan, seminggu sebelumnya, kami sudah mengirim surat ke pastor paroki Jetis, dan hari Rabu, sebelum kirab, kami cek lagi sekaligus mengulangi permohonan izin. Karena halaman parkir gereja Jetis akan menjadi titik awal kegiatan kirab, kami telah mohon kepada pastor paroki Jetis agar romo atau suster, pro diakon atau misdinar atau Mudika ikut serta dalam kirab. Sayangnya, saat peserta kirab mulai memenuhi halaman parkir gereja, tidak satu pun utusan paroki yang rawuh (datang). Sebenarnya saya agak malu saat beberapa teman non Katolik bertanya, "lho mana romo peserta dari gereja Jetis?". Okey lah, ga papa. Kebetulan ada beberapa suster OSF dari paroki Kidul Loji yang nyegat di jalan dan bergabung.

Urutan Kirab: Cucuk Lampah pemegang bendhe, pembawa dupa, bendera FPUB dan Merah Putih, Panji-panji kelompok agama dan kepercayaan, serta beberapa peserta dari suku-suku dan lembaga budaya dan sosial masyarakat. Diikuti oleh para ulama, Kyai, Bedande, Bikku, Pandita, Pendeta, Tokoh-tokoh local believe, para suster, dan Tumpeng Perdamaian (yang dibuat dari palawija masyaratan tani lereng Merapi dari Dewan Paroki Somohitan), Bregogo panah para Misdinar Somohitan, Bregogo srikandi dari Somohitan, Komunitas Hanongodento, Lembaga San Edigio, Kejawen, Sapta Dharma, Komuntias Buddha, Hinddu, para santri, Bregodo tombak dari Girikerto Pancoh, Jathilan Krido Turonggo dari Gunung Menoreh, Pleton-pelon dari berbagai suku, agama dan kepercayaan serta dibuntuti dengan pasukan Relawan RESCUE, ambulan dan pengangkut logistic.

Saya sebagai ketua panitia saat itu sempat meneteskan air mata haru saat jam menunjukkan pukul 15.39 WIB. Saya melihat ke belakang. Sebab, peserta kirab yang hampir 1 km panjangnya, itu menampakkan betapa guyub masyarakat yang ada. Padahal, sudah puluhan kali kami mengadakan acara kirab, namun Jumat Sore yang lalu menjadi sore yang sangat membanggakan.

Barisan, dengan khikmat berjalan mantap dengan pengawalan para relawan lintas iman dan Rescue Merapi serta Kepolisian. Kami sempat mendengar beberapa orang bicara, ”Kalau pasukan tertentu yang sering ngisruh(ngacau) ketika melewati suatu jalan, masyarakat sudah mulai menutup pintu. Lain dengan sore ini, masyarakat pada keluar dan sibuk memberi minuman dan memotret, bahkan tidak sedikit yang bergabung bersama barisan Kirab menuju Gedung Pamungkas.

Beberapa suster yang ikut berjalan bersama kami bertanya: ”Romo jalan sepanjang 4 kilometer dalam kirab ini boleh enggak kalau dianggap menggantikan Jalan Salib, kan ini hari Jumat?" Dengan spontan saya jawab: ”Tadi saya sudah bertanya kepada Tuhan Yesus, untuk sore ini, jalan salib Jumat boleh diganti dengan jalan bersama dalam Kirab”.

Sampai di depan Gedung Pamungkas, semua berbaris dengan rapi, lalu kami pimpin berdoa untuk perdamaian bangsa, dilanjutkan Pernyataan Sikap menggalang kekuatan masyarakat untuk mewujudkan Yogyakarta sebagai kota perdamaian. Mengingat bahwa para peserta kirab sudah kehausan, maka mereka segera ngrayah tumpeng (berebut makanan tumpeng) dilanjutkan makan snack Munyukkan yang dibawa oleh para donatur. Namun, kami mengalami kesulitan seperti PERKAWINAN DI KANA. Persiapan sore untuk 1.000 orang ternyata yang ikut kirab melebihi target, sehingga yang Njathil (menari kuda lumpeng) belum kebagian snack. Untung lah ada beberapa kelompok yang mengeluarkan bekal Munyukkan. Istilah Munyukan adalah makanan matang yang terdiri dari kacang, pisang, ketela goreng atau rebus, atau dari hasil bumi yang ditempatkan di tampah untuk dimakan bersama. Beberapa kawan dan sesepuh banyak yang terharu saat melihat keseriusan peserta kirab yang tanpa pamrih.

Malam hari, sebagai malam penutupan, berlangsung cukup meriah, diawali dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh paguyuban orang Muda Bhineka Tunggal Ika lintas iman yang dimotori oleh Bpk. Wayan Senen dari ISI Yogyakarta dengan pelbagai lagu Nasional dan Perdamaian. Kemudian dilanjutkan dengan pengumuman hasil lomba lukis. Dari Somohitan kami mengirimkan dua anak, yakni Quinita dan Tulus, keduanya TIDAK Juara melainkan masuk ke 10 besar. Kami merasa bangga, bocah gunung bisa ikut dan dapat nomor, lalu lukisannya diikutsertakan dalam pameran lukis anak-anak di Republik Cheko. Sedangkan yang juara dari SD Muhammadiyah Kalasan, anak stasi Nandan, putra paroki Banteng.

Yang menggemparkan, dipentaskan tari-tari lintas iman, diiringi dengan lagu rohani peribadatan dari semua agama dan kepercayaan. Waktu sudah menunjukkan jam 23 saat acara diakhiri. Kami bersama seluruh panitia dan relawan lelah tetapi senang. Dalam sambutan, saya menyatakan bahwa inilah gambaran Indonesia Mini. Semoga bangsa kita seperti yang sejak kemarin kita buat dan puncaknya pada hari ini. Saya sempat berteriak: ”Para bapak ibu pejabat dan pemimpin lembaga dan negara, lihat lah sore hari ini, masyarakat tingkat bawah membuat suatu percontohan nyata. Karena itu mari kita serukan dari Yogyakarta, kita selamatkan Indonesia".

(Romo Y. Suyatno H. Pr., Somohitan, 1 Maret 2010)



<<First <Back | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | Next> Last>>

 
    Login Admin        @copyright 2010 ADITUSOFT.COM     LoginMember