Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr
( Romo Yatno )
   
Gerakan Lintas Iman 
Wednesday, March 3, 2010, 18:12 - Lintas Iman Posted by romoyatno

KIRAB LINTAS IMAN
(Peringatan FPUB hari ke 2)

Gerakan Lintas iman yang diprakarsai oleh Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) hari ke dua berlangsung di pusat kegiatan Gedung Pamungkas sisi timur Gor Kridosono, Jumat 26 Februari 2010. Kegiatan hari ke dua diawali dengan Lomba Lukis anak SD, diikuti sekitar 163 peserta, itu cukup menarik karena ada beberapa hadiah: Juara pertama mendapat hadiah Tropi dari HB X, Kep. Din. Olah Raga Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wali kota Yogyakarta. Serta, uang pembinaan. Sedangkan juara harapan mendapat tropi dari FPUB dan sertifikat dari Kartika Affandy. Yang menarik lagi, karena 10 besar lukisan yang dapat juara, lukisan mereka akan diikutsertakan dalam Lomba Lukis Anak di Republik Cheko. Ini atas inisiatif KH. Zaiffudin, tokoh Ahmadiyah Yogyakarta. Asyiik, menarik karena anak-anak dengan pelbagai tingkah polahnya, bahkan cuek bebek dengan segala peraturan. Padahal, tema besarnya adalah: “Indahnya bersahabat“. Misalnya, ada kakak beradik yang sama-sama ikut lomba, lalu lukisan kakaknya diminta adik, padahal belum selesai, terpaksa si kakak melukis lagi. Ada pula yang satu lukisan digambar dua orang karena kebetulan anak kembar. Dari seluruh peserta siang itu sudah terpilih 10 nominasi, kebetulan jurinya dari utusan Kartika Affandi dan pelukis kaki dari Hipenca (Himpunan penyandang cacat). Ibu Kartika Affandy saat itu menghadiahkan Lukisan Pasar Bali untuk dilelang dan (kalau laku) dananya akan diserahkan ke FPUB untuk melanjutkan kegiatan perdamaian lintas Iman di Yogyakarta. Selesai lomba lukis, seluruh peserta dan panitia mempersiapkan acara sore hari. Yakni, Kirab lintas Iman dan Malam Musik Kolaborasi.

Acara Kirab Lintas Iman dimulai dari halaman parkir Gereja Jetis. Kebetulan, seminggu sebelumnya, kami sudah mengirim surat ke pastor paroki Jetis, dan hari Rabu, sebelum kirab, kami cek lagi sekaligus mengulangi permohonan izin. Karena halaman parkir gereja Jetis akan menjadi titik awal kegiatan kirab, kami telah mohon kepada pastor paroki Jetis agar romo atau suster, pro diakon atau misdinar atau Mudika ikut serta dalam kirab. Sayangnya, saat peserta kirab mulai memenuhi halaman parkir gereja, tidak satu pun utusan paroki yang rawuh (datang). Sebenarnya saya agak malu saat beberapa teman non Katolik bertanya, "lho mana romo peserta dari gereja Jetis?". Okey lah, ga papa. Kebetulan ada beberapa suster OSF dari paroki Kidul Loji yang nyegat di jalan dan bergabung.

Urutan Kirab: Cucuk Lampah pemegang bendhe, pembawa dupa, bendera FPUB dan Merah Putih, Panji-panji kelompok agama dan kepercayaan, serta beberapa peserta dari suku-suku dan lembaga budaya dan sosial masyarakat. Diikuti oleh para ulama, Kyai, Bedande, Bikku, Pandita, Pendeta, Tokoh-tokoh local believe, para suster, dan Tumpeng Perdamaian (yang dibuat dari palawija masyaratan tani lereng Merapi dari Dewan Paroki Somohitan), Bregogo panah para Misdinar Somohitan, Bregogo srikandi dari Somohitan, Komunitas Hanongodento, Lembaga San Edigio, Kejawen, Sapta Dharma, Komuntias Buddha, Hinddu, para santri, Bregodo tombak dari Girikerto Pancoh, Jathilan Krido Turonggo dari Gunung Menoreh, Pleton-pelon dari berbagai suku, agama dan kepercayaan serta dibuntuti dengan pasukan Relawan RESCUE, ambulan dan pengangkut logistic.

Saya sebagai ketua panitia saat itu sempat meneteskan air mata haru saat jam menunjukkan pukul 15.39 WIB. Saya melihat ke belakang. Sebab, peserta kirab yang hampir 1 km panjangnya, itu menampakkan betapa guyub masyarakat yang ada. Padahal, sudah puluhan kali kami mengadakan acara kirab, namun Jumat Sore yang lalu menjadi sore yang sangat membanggakan.

Barisan, dengan khikmat berjalan mantap dengan pengawalan para relawan lintas iman dan Rescue Merapi serta Kepolisian. Kami sempat mendengar beberapa orang bicara, ”Kalau pasukan tertentu yang sering ngisruh(ngacau) ketika melewati suatu jalan, masyarakat sudah mulai menutup pintu. Lain dengan sore ini, masyarakat pada keluar dan sibuk memberi minuman dan memotret, bahkan tidak sedikit yang bergabung bersama barisan Kirab menuju Gedung Pamungkas.

Beberapa suster yang ikut berjalan bersama kami bertanya: ”Romo jalan sepanjang 4 kilometer dalam kirab ini boleh enggak kalau dianggap menggantikan Jalan Salib, kan ini hari Jumat?" Dengan spontan saya jawab: ”Tadi saya sudah bertanya kepada Tuhan Yesus, untuk sore ini, jalan salib Jumat boleh diganti dengan jalan bersama dalam Kirab”.

Sampai di depan Gedung Pamungkas, semua berbaris dengan rapi, lalu kami pimpin berdoa untuk perdamaian bangsa, dilanjutkan Pernyataan Sikap menggalang kekuatan masyarakat untuk mewujudkan Yogyakarta sebagai kota perdamaian. Mengingat bahwa para peserta kirab sudah kehausan, maka mereka segera ngrayah tumpeng (berebut makanan tumpeng) dilanjutkan makan snack Munyukkan yang dibawa oleh para donatur. Namun, kami mengalami kesulitan seperti PERKAWINAN DI KANA. Persiapan sore untuk 1.000 orang ternyata yang ikut kirab melebihi target, sehingga yang Njathil (menari kuda lumpeng) belum kebagian snack. Untung lah ada beberapa kelompok yang mengeluarkan bekal Munyukkan. Istilah Munyukan adalah makanan matang yang terdiri dari kacang, pisang, ketela goreng atau rebus, atau dari hasil bumi yang ditempatkan di tampah untuk dimakan bersama. Beberapa kawan dan sesepuh banyak yang terharu saat melihat keseriusan peserta kirab yang tanpa pamrih.

Malam hari, sebagai malam penutupan, berlangsung cukup meriah, diawali dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh paguyuban orang Muda Bhineka Tunggal Ika lintas iman yang dimotori oleh Bpk. Wayan Senen dari ISI Yogyakarta dengan pelbagai lagu Nasional dan Perdamaian. Kemudian dilanjutkan dengan pengumuman hasil lomba lukis. Dari Somohitan kami mengirimkan dua anak, yakni Quinita dan Tulus, keduanya TIDAK Juara melainkan masuk ke 10 besar. Kami merasa bangga, bocah gunung bisa ikut dan dapat nomor, lalu lukisannya diikutsertakan dalam pameran lukis anak-anak di Republik Cheko. Sedangkan yang juara dari SD Muhammadiyah Kalasan, anak stasi Nandan, putra paroki Banteng.

Yang menggemparkan, dipentaskan tari-tari lintas iman, diiringi dengan lagu rohani peribadatan dari semua agama dan kepercayaan. Waktu sudah menunjukkan jam 23 saat acara diakhiri. Kami bersama seluruh panitia dan relawan lelah tetapi senang. Dalam sambutan, saya menyatakan bahwa inilah gambaran Indonesia Mini. Semoga bangsa kita seperti yang sejak kemarin kita buat dan puncaknya pada hari ini. Saya sempat berteriak: ”Para bapak ibu pejabat dan pemimpin lembaga dan negara, lihat lah sore hari ini, masyarakat tingkat bawah membuat suatu percontohan nyata. Karena itu mari kita serukan dari Yogyakarta, kita selamatkan Indonesia".

(Romo Y. Suyatno H. Pr., Somohitan, 1 Maret 2010)


Kotbah Pra paskah I C 
Monday, March 1, 2010, 04:14 - Kotbah Posted by romoyatno
MINGGU KE 2 PRA PASKAH Luk 9,28b-36

Yesus Naik gunung untuk berdoa

Ringkasan Injil
Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes sebagai orang-orang kunci naik gunung untuk berdoa. Saat berdoa wajah dan pakaian Yesus bercahaya. Musa dan Elia menemui Yesus. Mereka berdiskusi tentang puncak karya Yesus untuk menjadi penebus yang akan terjadi dengan sengsara dan wafat-Nya di Yerusalem. Saat kemuliaan masih berlangsung, para murid tertidur. Saat kaget dan bangun mereka usul: Enak sekali di sini, baiklah kami akan mendirikan 3 kemah satu untuk Yesus, satu untuk Musa dan satu untuk Elia. Saat Yesus sendirian terdengarlah suara: ”Inilah putera kesayanganku, kepada-Nya lah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”

Beberapa point permenungan:
1. Yesus naik gunung untuk berdoa

Dalam kegiatan-kegiatan yang bernuansa sakral, orang sering menggunakan Tumpeng. Tumpeng lambang gunung. Biasanya bagian bawah tumpeng ada macam-macam warna dan rasa, semakin memuncak semakin tanpa hiasan. Ini mau menggambarkan bahwa pada saat-saat penting kita perlu meninggalkan dunia keramaian dan masuk dalam keheningan. Maka, tumpeng punya arti TUmuju Marang PENGeran (Menuju kepada Allah). Kalau dalam dunia pewayangan jawa, tumpeng disimbulkan dalam gunungan. Gunungan atau kayon yang berasal dari kata KAYUN, itu artinya hidup. Wayang atau kehidupan manusia akan dimulai ketika Gunungan atau Kayon atau Kayun mulai digetarkan dan ditarikan oleh ki dalang. Ini bermakna bahwa Hidup sejati akan mulai berlangsung bila Sang Dalang Ilahi mulai menciptakan kehidupan sejati dalam diri manusia. Jadi, tumpeng berarti Hidup sejati. Hidup sejati terjadi bila orang berada di puncak gunung samadi dan berdoa dan bertemu dengan Tuhannya, seperti Yesus di puncak gunung untuk bertemu dengan Bapa di Surga. Maka, kita akan menyuburkan hidup batin, bila kadang kita menyepi, samadi agar bisa bertemu hati dengan Tuhan. Doa adalah dialog pribadi dengan Tuhan.

2. Waktu berdoa, kemuliaan terpancar dari wajah dan pakaian Yesus

Bandingkan dengan saat orang melihat orang-orang yang yang pro kontra tentang bank Century atau Rapat Partai dengan orang yang pulang dari Misa di gereja. Yang pertama, saat berangkat wajah ceria, tetapi saat pulang wajah kuyu, terutama ketika menjadi tertuduh atau kalau kalah dalam debat kusir. Sedang yang kedua, saat berangkat berbeban berat penuh kepenatan hidup, namun saat pulang dari Gereja berwajah ceria, seperti ada pancaran rahmat dari Tuhan. Pernah ada seorang tambal ban yang memberi kesan: ”Saya itu heran kalau orang-orang Katolik pulang dari gereja kok kelihatannya ramah-ramah dan senang, hampir tidak ada yang mbesengut, alias cemberut.

3. Dua tokoh perjanjian Lama, Musa dan Elia rapat khusus dengan Yesus.

Saya gambarkan bahwa Musa dan Elia adalah utusan surga untuk rapat emergency dengan Yesus untuk konfirmasi, bahasa Jawanya ditanting. Betulkah Yesus benar siap sedia menjadi penebus? Dengan risiko menderita sengsara dan mati di salib. Kalau gak mau berarti karya penebusan gagal, kalau siap berarti siap sengsara dan mati, tetapi jaminan keselamatan bagi semua manusia terjamin. Jadi, pertemuan tiga serangkai itu untuk membahas Hidup Mati-nya Yesus dan risiko yang harus dipanggul Yesus. Saya pikir ini terjadi pergulatan hebat. Ya dan tidak! Bayangkan orang sakit saja diobati, kok orang sehat mau sengsara dan mati padahal bisa menghindar kalau mau. Urip pisan (hidup sekali) kok sengsara. Akhirnya, setelah pergulatan batin, Yesus berani memutuskan SAYA SIAP JADI PENEBUS APA PUN RISIKONYA. Musa dan Elia adalah saksi dari kesiapan Yesus. Da…an, Bapa di surga begitu terharu dan bahagia, karena Putra-Nya taat. Maka, sabda surga yang bergema: ”Inilah Putra Kesayangan-Ku, kepada-Nya lah Aku berkenan. Dengarkanlah Dia”.

Refleksi:
a. Seluruh umat Kristiani yang terkasih dan siapa saja, tolong kalau memutuskan sesuatu yang penting selalu: ”Dalam suasana Doa”, cara ini biasanya akan menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya, kalau asal memutuskan, keputusan asal-asalan, buahnya juga asal-asalan. Misal, asal memilih jalan hidup, hidupnya juga asal hidup, buahnya waton (asal) hidup, tidak hidup yang maton (benar).

b. Berbeda dengan Janji Yesus yang taat jadi penebus dengan segala konsekwensinya dengan Janji/sumpah orang saat dilantik menjadi pejabat tertentu. Saat dilantik ya-ye ya – ye, tapi akhirnya ada nya sibuk, “Tinggal glanggang colong jupuk” (ditinggal tanpa tanggung jawab sambil mengambil untung).

4. Para murid kesayangan Yesus “tertidur” dan usul mendirikan 3 kemah

Nah, ini menyangkut kelemahan manusiawi. Orang yang tertidur, bisa karena ngantuk, bisa pula karena pura-pura tidur, bisa karena suka bersandar pada tembok yang maha kuasa (artinya, di mana pun juga orang mudah tidur). Sering terjadi dalam kehidupan bahwa ketika ada persoalan atau pekerjaan atau permintaan bantuan, banyak orang yang pura-pura tertidur. Bayangkan, Yesus yang akan mengalami kesengsaraan dan kematian, para murid-Nya yang terhormat malah tertidur. Kan mirip dengan orang, ada panitia reuni yang sibuk urus ini itu dan cari dana ke sana kemari, ada yang tenang-tenang dan ketika acara sudah beres baru menampakkan diri duduk paling depan, berbicara keras tapi keliru. Kayaknya para murid yang tidur, biar tidak diserahi tanggung jawab. Seperti dalam keluarga, ketika banyak pekerjaan pura-pura tidur, tetapi ketika masakan sudah matang paling dahulu makannya. Biasa lah dalam hidup, orang yang kurang bertanggung jawab sering membelokkan persoalan. Ke 3 murid itu mencoba membelokkan keadaan dengan “Tuhan enak sekali di sini. Mbok kita mendirikan 3 tenda, satu untuk Yesus, Musa dan Elia. Karena, ingin lepas dari tanggung jawab. Pura-pura mengira bahwa ke atas gunung para murid diajak Yesus untuk rekreasi. Ketika orang sudah mengalami kenikmatan jadi terlena dan wegah (malas) untuk turun di dunia nyata yang penuh masalah. Nek bisa Golek kepenak (Kalau bisa, cari yang enak). Nek sedang ada kesibukan dan kerepotan: Mencari alasan untuk TINGGAL GLANGGANG COLONG PLAYU atau Joyoendo (Pandai menghindar).

5. Terdengar suara dari surga: Inilah Putera kesayangan-Ku kepada-Nya lah Aku berkenan. Dengarkan lah Dia

Kira-kira kita termasuk menjadi pendengar sabda, pewarta sabda atau pelaksana sabda. Jelasnya, kita termasuk yang suka bicara tentang masalah atau berhadapan dengan masalah. Kalau kita menggunakan model Yesus, maka sebutan itu layak diterapkan kepada kita: “Kamu adalah putra-Ku yang terkasih, kepada-Mu Aku berkenan”.
(Rm Yatno, Sabtu 27 Feb)


<<First <Back | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | Next> Last>>

 
    Login Admin        @copyright 2010 ADITUSOFT.COM     LoginMember