Berita Mertibumi Lereng Merapi

Gereja Keuskupan Agung Semarang telah menetapkan bahwa tahun 2010 adalah tahun syukur. Hal ini telah ditegaskan dalam Surat Gembala Pra Paska 2010. Namun, bagi umat paroki St. Yohanes Rasul Somohitan, tahun syukur tidak hanya dirayakan dan direnungkan dalam APP atau pertemuan umat. Ada yang istimewa. Yakni, justru tahun syukur dirayakan bersama masyarakat lereng Barat Gunung Merapi, yang dipusatkan di Balai desa Girikerto, Turi, Sleman. Tema syukur disebut Mertibumi atau pelbagai kegiatan untuk menjaga dan melestarikan alam yang dalam istilah setempat disebut ngrowod (Ngleluri Ombyaking Wargo Hamerti Kuncoro Desa, yang berarti: memberi dorongan dan semangat seluruh adat dan kebiasaan baik masyarakat demi keluhuran dan nama baik Desa)
Rangkaian upacara Mertibumi dikemas dalam pelbagai acara dari Jumat, 5 Februari sampai Minggu, 14 Februari. Jumat, 5 Februari diadakan pembukaan dengan ditutupnya lomba kebersihan kampung. Malam harinya dibuka pasar malam dan hiburan rakyat selama berlangsung Mertibumi dan masyarakat dihibur dengan Wayang Kulit semalam suntuk. Sabtu, 6 Februari, giliran seluruh umat Katolik Paroki Somohitan dan umat dari luar Somohitan bersama-sama mengadakan Ekaristi Akbar di gedung balai desa Girikerto yang dikemas apik dalam nuansa jawa lengkap dengan gamelan sebagai pengiring. Dalam Misa syukur yang dihadiri oleh ribuan umat Katolik tersebut dipimpin langsung oleh pastor paroki, Rm Y. Suyatno Hadiatmojo Pr., didampingi oleh rm. Andreas Suhono CSSR., dan Rm. Romy OCD. Menjadi unik tatkala para romo yang bukan dari Keuskupan Agung Semarang harus mengenakan pakaian jawa. Dalam ekaristi tersebut ditekankan bahwa syukur adalah sikap orang yang beriman. Syukur atas alam diwujudkan dengan mencintai alam sebagai lahan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Agar alam tidak rusak seperti di tempat lain, maka baik mata air dan kelestarian hidup lereng Merapi sebagai sumber air bagi wilayah-wilayah sekitar Merapi, mesti kita jaga dan dilestarikan. Karena itu persembahan ekaristi diwujudkan dalam jodang persembahan hasil bumi masyarakat setempat.
Di tempat yang sama pada hari Minggu, 7 Februari, diadakan pengajian Akbar yang dibanjiri umat Muslim dari lereng Barat Merapi. Tema pelestarian alam dan persaudaraan diangkat dan dijelaskan dengan gamblang. Yang menarik adalah semua hasil kolekte dan infak disatukan untuk disumbangkan bagi kebutuhan acara tersebut. Dua kegiatan akbar ditempatkan di awal Mertibumi karena dipahami bahwa doa dan syukur mesti menjadi landasan untuk hidup bersama. Senin sore, 8 Februari, diadakan lomba tembang mocopat yang diikuti baik orang tua maupun remaja dan anak-anak. Selasa sore, 9 Februari, diadakan final lomba bersih kampung dan malam harinya digelar Wayang Orang. Rabu, 10 Februari, diadakan kenduri bersama masyarakat dan Kamis, 11 Februari, diadakan donor darah, pengobatan alternatif dan pasar murah yang ditangani oleh tim dari paroki Somohitan. Jumat, 12 Februari, dipentaskan tontonan klasik Ketoprak Pamong Budoyo yang diperankan oleh seluruh perangkat baik Camat, Pastor Paroki Somohitan Rm Y. Suyatno H. Pr, Lurah Girikerto dan kepala dusun serta ketua-ketua RT. Pentas ini menjadi sangat menarik karena para pemainnya tidak biasa bermain ketoprak, namun justru mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat karena mereka menunggu seorang pastor yang memerankan tokoh Guru kebijaksanaan Begawan Sidik Paningal dan lurah Girikerto berberan sebagai Begawan Manik Suko serta camat berperan sebagai Joko Samboro. Nampak nyata kolaborasi antara tokoh gereja dan masyarakat serta para pimpinan masyarakat lokal. Lucu, karena sering lupa pada peran masing-masing.


Berikut ini sekilas Acara Kirab Ageng atau Kirap Agung Prosesi Pengambilan Air Suci Setelah mendapat restu dari Sri Sultan Hamengku Buwono X dan para ulama Lintas Iman, Lurah Girikerto, sebagai ketua adat mengutus wakilnya untuk membawa surat kepada juru kunci Umbul Nangsri (Mata air) untuk diperkenankan mengambil air yang akan dikirab keliling wilayah Girikerto. Surat diterima, disusul barisan Pager Bagus dan Pager Ayu, Pasangan-pasangan muda-mudi tersebut merupakan perwakilan 13 pedukuhan, dengan masing-masing. Dengan khitmat mereka menerima sepasang kendi tanah yang akan dibawa ke mata air Nangsri. Sementara di pinggir jalan barisan pengiring yang terdiri dari 4 bregodo/pleton (barisan pembawa tambur, tombak, panah) dan tokoh masyarakat dan duta Lurah membawa tumpeng untuk juru kunci Umbul
Nangsri bersiaga. Pelan namun khitmat, barisan mulai berjalan. Di tengah jalan dicegat oleh Raksasa Buto Cakil, seakan barisan menjadi agak buyar. Namun, tiba-tiba muncul Arjuna di depan barisan, hingga terjadi perang tanding antara Arjuna dan Raksasa Cakil. Dalam pertempuran itu, Raksasa Cakil tewas dengan kerisnya sendiri. Adegan itu mengandung makna bahwa setiap kehendak baik selalu ada rintangan. Rintangan bisa muncul dari luar maupun dari dalam diri manusia. Namun, dalam kemantapan, keteguhan dan kebersamaan, sebuah cita-cita luhur pasti tercapai. Aneh memang, begitu raksasa Cakil tewas, hujan mulai turun rintik-rintik mengiringi barisan yang terdiri dari sekitar 500 orang menuju Umbul atau Mata Air Nangsri.
Mata Air Nangsri yang berjarak 750 meter dari Balai desa telah dipersiapkan sebelumnya dengan hiasan tarub, tanaman penghijauan dan dipagari dengan kain suci. Sang Juru kunci menerima utusan dan segera mempersilahkan rombongan mengambil air masing-masing satu kendi, kemudian dengan digendong kain dibawa kembali ke Balai Desa diterima ketua adat, ki Lurah Suharto. Sementara barisan pengambil air beristirahat, seluruh peserta kirab menata diri. Paling depan foreder dari Polisi Pariwisata, disusul pak Lurah yang naik mobil terbuka, dan secara berturut-turut disusul Tumpeng Ageng Kalurahan, pasukan tombak Bregodo Pancoh, pasukan panah Mencon, drumb Band, Pager bagus-pager ayu dengan kendi berisi air yang dituangkan sepanjang jalan batas kalurahan Girikerto, barisan pembawa tumpeng dari 13 padukuhan dan dari tumpeng gereja paroki Somohitan yang diiringi barisan Sie Kemasyarakatan dan seluruh anggota masyarakat yang berpakaian Jawa.
Ternyata di balik hingar-bingar pawai Mertibumi yang berrefleksi. Kirab massal hampir sepanjang 3 km menggugah banyak pertanyaan refleksif. Alangkah indahnya jika kegiatan tersebut bisa ditiru oleh wilayah lain, meski tidak mudah. Sebab, guyubnya masyarakat mesti ditumbuhkan dari tahun ke tahun. Anehnya, beberapa kelompok masyarakat yang semula anti terhadap kegiatan itu, dari tahun ke tahun malah banyak yang bergabung. Tidak dapat dipungkiri bahwa gereja dan pastor paroki mesti terlibat langsung, bahkan menjadi motor penggerak tanpa harus membawa nama dan bendera gereja, masyarakat sudah melihat perannya. Paguyuban yang telah terbentuk hampir tujuh tahun otomatis mampu menangkal setiap gerakan yang mencoba memecah belah masyarakat. Dari Somohitan Girikerto kita selamatkan Indonesia.
|

HONDA MERAH
Saya juga punya pengalaman dengan Romo Pujo ... eh Mgr Pujo dengan Honda Merahnya. Pada waktu itu ada beberapa orang yang ingin ke Ambarawa atau Goa Kerep dengan berjalan kaki, mungkin adik kelas kita. Sebagai pamong umum yang bertanggung jawab, Sabtu sore, Romo Pujo ingin ngaruhke (menyapa) para seminaris yang diperkirakan sudah sampai di Ambarawa. Seperti Trinug, saya juga ditawari untuk ikut mbonceng naik Honda Merah beliau. Namun, saya tidak ngantuk. Sampai di Ambarawa sudah sore, sungguh sore sekitar jam 18.30. Sesudah ngomong-ngomong dengan beberapa seminaris yang kelelahan, kami pulang menuju ke Mertoyudan.
![]() ![]() |
Tiba-tiba, dari dalam rumah yang agak megah, terdengarlah suara seorang anak yang bernyanyi "Semua jalan di dunia, menuntunku ke surga, desiran angin nan mesra menuju pada Bapa". Seperti mukjizat, kami spontan berdiri dan menuju rumah asal suara nyanyian tadi. Dengan sangat pede kami mengetuk pintu. Tuan rumah yang belum tidur langsung membuka pintu dan mempersilahkan masuk, dan romo Pujo langsung memperkenalkan diri, "Saya romo Pujo dari Seminari Mertoyudan......" Tuan rumah dengan ramah menjawab, "Oh ya mari pak. Bapak dari mana?" Jawab Romo Pujo, "Saya Romo Pujo dari Seminari Mertoyudan". "O ya, baik pak", jawan Si empunya rumah. "Maaf ... tadi saya dengar anak bapak menyanyi 'Semua bunga dari Madah Bakti', maka saya berani mengetuk pintu. Oh iya pak, dia kami sekolahkan di Teresiana dekat situ. Meski kami bukan Katolik tapi kami senang menyekolahkan anak kami di situ karena dididik secara disiplin.
Wajah Romo Pujo agak berubah. Namun, ternyata bapak itu malah bertanya, "kenapa bapak mampir di sini?" Ada kepentingan apa?", tanya tuan rumah. "Anu ... sepeda motor saya mogok. Kami mau nitip sepeda motor dan mau naik bus, besuk satu dua hari akan kami ambil". Lalu, dengan ramah tuan rumah mengecek sepeda motor Honda Romo Pujo. Dan, hebatnya orang itu mengatakan yang rusak accunya. "Begini saja pak", katanya "... accu sepeda motor saya bisa bapak pakai, nanti kalau pas ke Semarang bisa dikembalikan".
Kaget wajah Romo Pujo, saya hanya thingak-thinguk (clingak-clinguk) sambil nyeruput teh sajian tuan rumah yang baik itu. Setelah diganti accu, "jeeerrrrr ...", honda kesayangan Romo Pujo dapat berjalan lagi. Sesudah menghabiskan teh manis, kami pamitan. Kami heran akan karya Allah yang serba kebetulan tadi. Dan, Romo pujo (kalau tidak salah) akan mengembalikan accu sambil memberi tanda terima kasih berupa ALPOKAT dari kebun Seminari. Tetapi, kata beliau lagi, Romo Pujo kaget untuk kedua kalinya, karena Si penyelamat itu, setelah menerima APOKAT dari romo Pujo, itu masih mengatakan bahwa "di sini, kami juga punya banyak pohon ALPOKAT, hanya sekarang agak murah". Yeee ... kecelik dua kali. Mgr Pujo masih ingat kah pada peristiwa itu? Berkah Dalem! (Rm Yatno)
|

