Thursday, January 7, 2010, 23:11 - Berita Posted by Administrator
Ada berita tentang Natalan bersamaWaktu Gus Dur wafat 30 Desember lalu, kami sedang Natalan Lintas Iman di pinggiran Kali Progo bersama msyarakat Salamrejo Sentolo. Kami menempati joglo seorang penghayat Kerohanian Sapto Dharmo, yang hadir hampir separo umat Muslim lengkap dengan para kyai. Yang memberi refleksi Natal kami ber enam Penghayat Kawula Ngayogyakarto, Kyai H. Abdul Muhaimain, Rm Yatno, Bedande Wayan SUmerta, Pendeta Bambang Subagyo, Penghayat Handadenta. Sharing dan tanya jawab cukup gayeng sampai jam 22.30. Bahkan ada pimpinan pondok pesantren *Ki Jogo Sendang" yang siap menjadi pimpinan pagyuban Lintas Iman. Selesai Acara langsung ke Tugu Jogya bersama masyarakat untuk Doa Arwah Gus Dur.
Selasa Malam kami doa 7 hari wafat Gus DUr di depan Klenteng Kranggan Joyga, wah lumayan mantap. Yang datang uakih buanget. Dan malam ini (Rabu) kami baru saja refleksi nilai-nilai perjuangan Multi cultur nya Gusdur di Gajah Mada.
Hikmah wafatnya Gus Dur ternyata mampu menggugah banyak lapisan masyarakat pentingnya mewujudkan persaudaraan Linta Iman dan Multicultur. Sedangkan Kamis maloam kami akan mengadakan Natalan Lintas Iman di Gedung Gubernuran Kepatihan Yogyakarta. Ini Natalan paling aneh. Karena Natalan Pegawai Sipil TNI dan POLRI, tetapi petugas pokoknya: Rm Yatno yang berdoa pembukaan dan Syafaat, Pdt Bambang yang Pesan Natal sedang Kesan Natal oleh Kyai Haji Abdul Muhaimin. Serta Sambutan pokok dari Sultan HBX. Kami mau dengar apa reaksi orang-orang yang anti multicultur?
Siapa mau ikut tak ampiri.
add comment
|
Friday, December 11, 2009, 23:03 - Berita Posted by Administrator
Kawan-kawan, bergembiralah dan bersyukurlah bersama kami, karena pembuatan jembatan Nglempong-Somohitan yang dimulai 8 Oktober kini 9 Desember (Bersamaan Hari Anti Korupsi) telah selesai. Ukuran jembatan 16,5 m X 3,5 m. Dana dari Kalurahan 17 jt, dari serkiler masyarkat 8 jt dan dari mubeng-mubeng ke para donatur masih dlm proses. Kira-kira dana yang dihabiskan 69,6 jt. Dalam refleksi kami kami hanya bisa bersyukur kepada Tuhan atas karya baik yang boleh kami kerjakan bersama-sama. Tapi buah nya ada yang baik dan yang kurang baik.Yang baik, bahwa masyarakat yakin bahwa berat apapun beban yang harus ditanggung namun kalau dipikul bersama akan ringan. Buktinya saat ngecor lantai jembatan hahadir sekitar 175 orang, maka dalam dua jam kelar. Karena kerja gotong royong terjadi dengan manis maka keguyuban makin baik.
Yang kurang menyenangkan, hari Selasa kemarin (8 Des). Ada rawuhan dari Pemda Sleman termasuk yang ingin mencalonkan bupati. Pak Lurah diinstruksi untuk mempersiapkan peresmian, dari Pemda Sleman akan rawuh 35 orang, dan peresmiannya diminta agak meriah dengan kenduri dan mengundah Pejabat Propinsi untuk hadir. Hal menyebabkan banyak anggota masyarakat yang kurang simpatik. Karena kami yang sehari-hari di jembatan gak diajak rembugan. Dan mereka hanya mau datang tidak nyumbang. Yang makin nggelani, karean dua orang yang mencalonkan diri jadi bupati akan berpidato waktu peresmian jembatan. Kejengkelan masyarakat karena mereka itu sudah alam "berjanji untuk merencanakan akan membantu dana 2 jt). Jadi masih adoh banget. Masyarakt cukup mau kenduri kecil-kecilan saja. Dan nyekar di makam leluhur yang dimakamkan di di kuburan dekat jembatan. Maka berlakulah JER BASUKI MOWO BEA. Masyarakat yang iuran, kerja bakti, sedialan konsumi malah mau diproyekkan oleh
beberapa pejabat.Maka yang jadi pejabat serba BASUKI sedang masyarakat YANG MOWO BEO. Piye iki. Mohon tanggapan. Yang mau melihat silahkan mriksani di attachment
|