Wednesday, December 23, 2009, 23:06 - Cerita Pengalaman Posted by Administrator
Kalau bicara soal Blessing in disguise pengrusakan gereja.
Saya setuju, Karena segala sesuatu kalau direnungkan pasti ada MAKNANYA. Paling
tidak untuk menjawab:"Mengapa terjadi dan mengapa mereka serta kenapa saya
dan kenapa gereja dirusak". Lalu bagaimana agar gereja tidak dirusak.
Romo Mangun pernah memberi pesan:"Omahmu ojo kok pageri beling ning
pagerono piring". Artinya benteng terkuat dari kehidupan kita
bermasyarakat adalah tetangga di sekitar tempat kita tinggal. Meskipun jaringan
kita di pelbagai pelosok dunia, namun kalau dengan tetangga terdekat kita gak
akur, ya gimana ya.
Saya mau sharring.
Senin Malam kami mengadakan SYUKURAN ATAS JEMBATAN YANG TELAH KAMI BANGUN
(Seperti yang telah kami infokan yang lalu).Ternyata jembatan 16,5 m dan lebar
3,5 m dengan kekuatan beban 8 ton, membutuhkan dana hampir 69,624 juta. Dari
kalurahan 20 jt dari Ratu Hemas 5 jt, dari beberapa donatur 5,5 jt. Dan dari
masyarakat selkileran 9,375 jt jadi jumlah total 39, 875 jt sehingga
mengalami defisit 29.749000. Namun lepas dari perdefisitan kami tetap yakin
bahwa pasti tercukupi.
Yang mau saya sharingkan adalah syukuran tadi malam (Senin 21 Des 2009). Sejak
Kamis yang lalu telah dibicarakan dalam saresehan masyarakat dusun Nglempong,
Surodadi,Bayan, Glagah Ombo, SOmohitan, Daleman, Ponosaran. Bagaimana
masyarakat diuwongke. Karena sejak 8 Oktober yang lalu telah sibuk urunan,
kerja bakti, sumbang pasir, bambu dll. Maka bentuk syukuran yang kami
rencanakan adalah model TEOLOGI PERBANYAKAN ROTI. Yakni 5000 orang yang
mendengarkan Yesus orangnya pelit-pelit. Lalu Yesus menyuruh membagi 5 roti dan
2 ikan untuk 5000 orang. Bisa dibayangkan hanya dapat secuil cilik cilik. Yesus
mencoba memancing kepekaan mereka. Akhirnya mereka mengeluarkan bekal
masing-masing lalu dimakan bersama hingga sisak buanyak. Soale Yesus tahu benar
bahwa orang yang biasa berjalan di padang
gurun pasti membawa bekal.
Nah masyarakat 7 kampung yang mau syukuran kami pancing Bisa membawa apa jumlah
berapa. Sesuai dengan kerelaan, Sithik ora ditampik Akeh soyo pekoleh. Yang mau
buat kelompok dipersilahkan. Lhaaaa. Tadi malam dari paroki nyumbang Dhawet sak
gerobak, Bakso sak gerobak, masyarakat ada yang bawa ketela goreng, peyek,
tumpeng, gudhangan, ingkung dll. Sehingga orang 450 bisa makan bersama guayeng
dan malah banyak sisa. Padahal tidak ada anggaran dari panitia. Lalu kami
tanggapkan wayang kulit lewat radio. Le pada tirakatan ada yang sampai jam 4
pagi. ternyata MASYARAKAT KECIL DAN SEDERHANA KALAU KOMPAK MAMPU MENJADI
KEKUATAN YANG LUAR BIASA. Seperti pengalaman tadi malam, semua bersuka cita,
tidak pandang agama dan kepercayaan karena ada yang NU, Muhamadiyah, LDII,
Kebatinan, Katolik dll. Foto ada di attachment.
add comment
|
Sunday, October 18, 2009, 21:55 - Cerita Pengalaman Posted by Administrator
Belum lama ini saya jual mobil Colt yang dulunya kami beli dari Jual Mesin Perahu pemberian Gus Dur tahun 1999. Alasan mesin perahu dijual karena untuk Kedung Ombo terlalu bersar Yang dibutuhkan maksimal 22 pk oleh Gus Dur diberi 27 PK Kemudian ketika disepakai uangnya untuk beli Colt bukaan, ternyata Colt rusak lalu dijual lagi. Dana 12 jt mau kami serahkan ke warga Kedung Ombo. Tapi minggu yang lalu mereka minta dibelikan Traktor bajak. Untuk sawah2 warga. Ning jebul harganya 2010.0000. Wah ndadak cari2 dntur. Tapi dah dapat mungkin Jumat kami antar ke Kedung Ombo. Dengan demikian kewajiban dan tanggung jawabku dari rm Mangun untuk Kedung Ombo rampung. Kurban gempa yang kuliah di Jogja
Dalam pertemuan beberapa kali dengan Sultan HB X, Sri Paku Alam, kawan-kawan Komunitas Tionghoa Yogya, Forum Persaudaraan Umat Beriman, Komite Kemanusiaan Yogyakarta, bahwa hasil pengumpulan dana Tsunami tahun 2004 setelah dipakai untuk ngragati anak-anak kurban Tsunami yang di Jogja dianggap cukup, sisa dana disepakati unutk membantu para mahasiswa-i yang tidak bisa meneruskan study karena keluarganya jadi korban gempa. Sekarang kami sedang mengumpulkan data para mahasiswa asal Jawa Barat dan Sumatera Barat yang sungguh tidak bisa menyelesaikan study karena orang tuanya jadi kurban gempa baru terkumpul 47 orang.Sopo yang punya informasi bisa disampaikan pada saya.. Karena Selasa 20 Okt saya ndherekke Sri Paku Alam ke Wonosari untuk mencoba menawarkan pertanian sayuran dengan Kebun Buatan yang sudah saya praktekkan di Kulon Progo.
Kebun Buatan
Rangka kayu atau bambu yang diberi deklit atau tenda, kedalaman 30 Cm kemudian diberi tanah dan pupuk organik, lalu ditanami sayuran atau sejenisnya. Akan irit air dan tanaman organik, bisa untuk lahan sempit diseputaran rumah, hingga diwaktu kemarau tetap hijau royo-royo.
KURBAN BANJIR DI KAMARKU (SELINGAN)
Hari Sabtu 17 Okt kemarin saya pergi seharian. Jam 9-13 memberi Seminar Pemda Bantul dengan Thema Bantul Projo Tamansari dalam perspektif gerakan Lintas Iman. Pembicara saya dengan Khoiri Basuni dosen Ahmat Dahlan. Kemudian jam 13 trus dengan pakaian Jawa Komplit ke Gilang Harjo ke Pestntren Kanutan di rumah Kyai Ahmadi, karena ada acara Bersih Desa. Nah pastoran sedang ganti genting karena sering kalau hujan bocoorrr. Padahal Sabtu sore baru selesai pasang reng. Lhaaa... baru saja saya pulang ke pastoran sambil jagongan dengan koster dan seorang bapak, Bresss ujan. Kepekso jam 22.30 naik ke atap dan berjuang menutupi atap pastoran dengan deklit, karena gelap ya asal asalan. Ternyata di kamar saya jadi kayak kolam semua basah. Untung komputer sudah dipayungi. Wong Jowo ki ciloko ya tetap untung.
|