Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr
( Romo Yatno )
   
ASG 
Friday, August 6, 2010, 00:12 - Sosial/Kemasyarakatan Posted by romoyatno


ASG: NGELMU NYEDULUR

AJARAN SOSIAL GEREJA MODEL SOMOHITAN

Telah saya coba membaca dan merenungkan Ajaran Sosial Gereja (ASG), baik waktu kuliah di Kentungan maupun beberapa tulisan yang ada di millis para Romo Keuskupan Agung Semarang. Wah, kata-katanya banyak dan malah menjadi mumet (pusing). Namun, tulisan Mgr. Pujo lumayan, bisa menjadi landasan berpikir. Saya setuju banget kalau di Bulan Agustus, pas HUT RI Ke 65, Gereja mengajak kalau Bulan Agustus ini Menjadi Bulan ASG. Mumetku (pusingku) itu disebabkan banyak sebab. Karena, bagi saya, pribadi di zaman yang sulit ini, terutama yang dialami oleh saudara-saudara yang KLMT di lereng Merapi, yang mayoritas bekerja di bidang agraris, diminta untuk belajar ASG, jadi makin mumet. Masyarakat agraris biasanya lebih senang mendengar, glenak-glenik (bisak-bisik), lalu bekerja dibanding belajar pemahaman. Setelah membaca sabda Kristus di Luk. 7,32: “Kami meniup seruling tetapi kamu tidak menari. Kami mengidungkan kidung duka tetapi kamu tidak menangis”, saya malah takut kalau di Somohitan kami adakan Seminar. Tuhan Yesus marah sebab kepekaan terhadap sesama lemah, yang besar adalah kepeko’an.

Menurut pemahaman saya, lepas dari ilmu-ilmu dan ajaran Sosial, pada dasarnya ASG adalah ajaran dan ajakan bagaimana Gereja mesti memahami dan MELAKUKAN NGELMU SRAWUNG. Atau, ilmu untuk bergaul dan bersahabat ber “socius” dengan pihak lain. Tetapi, kata alm Rm. Anton Bakker SJ, keseimbangan Pribadi Manusia yang Seimbang adalah kalau antara besarnya kepala, badan dan anggota tubuh seimbang. Menjadi tidak seimbang bila orang kepalanya besar sekali tetapi badan dan anggotanya kecil-kecil dan kurus. Karena itu masyarakat Jawa ada unen-unen (ungkapan): “Ngelmu iku kelakone kanthi laku” (Belajar itu terjadi melalui tindakan). Singkat kata, Ajaran Sosial Gereja mesti menjadi ilmu untuk bertindak. Atau, ilmu tentang bersaudara untuk mendasari tindakan orang dalam bersaudara dengan pihak lain. Kata Saudara pun sudah sangat mendalam, yakni ber-seudara, senafas, senasib, seperasaan, seperjuangan. Kesedihan orang lain juga menjadi kesedihanku, kegembiraan orang lain juga menjadi kegembiraanku. Karena itu agar bisa bersaudara, perlu ada perjumpaan. Agak aneh, kalau Pengkotbah mengatakan: ”Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan…”, tetapi marah-marah. Ini berarti pembicara sudah menolak kata-katanya sendiri. Sebab, saudara berarti hubungan sehati masih ditambah Yang Terkasih. Berarti hubungan hati dan perasaan amat dekat.

Kembali di wilayah lereng Merapi yang mayoritas masyarakat agraris, telah banyak orang yang mempraktikkan NGELMU SRAWUNG (ilmu bergaul). Meskipun masyarakat berbeda agama, pangkat-derajat, namun dalam kesehatian tidak ada lagi rasa canggung. Kecanggungan ini disebabkan oleh jarang bertemu. Dalam pelbagai kesempatan, saling bertemu sungguh menjadi sarana tumbuhnya PERSAUDARAAN.

Beberapa contoh yang sekarang mulai hidup lagi adalah Nyadran di bulan Ruwah. Sebelum puncak acara, ratusan bahkan ribuan orang mengadakan bersih kubur dan menghias kuburan dengan aneka “rerenggan” dilanjutkan acara temu trah (keturunan), doa bersama, tabur bunga makam leluhur, dan akhirnya makan bersama. Saat tabur bunga, mereka yang sudah lanjut usia menceritakan pada keturunannya relasi persaudaraan antara si A dan si B. Di situ ngelmu bersaudara sudah menjadi praksis. Karena, yang sebelumnya belum kenal atau belum tahu disadarkan bahwa masih ada hubungan persuadaraan.


Bersaudara di rumah masa depan. Kita antre tunggu panggilan

Di samping itu masih banyak contoh, misalnya kerja bakti bersih kampung, Mertibumi, penghijauan, dll. Selama nyedulur (bersaudara) dengan banyak orang di pelbagai lapisan masyarakat, saya merasakan hidup itu indah. Tetangga adalah sahabat. Alam pun menjadi saudara. Orang tidak canggung meminta bantuan kepada orang yang telah akrab. Demikian pula bila orang datang untuk meminta bantuan, bukan untuk dicurigai.


Persaudaraan biasanya menghasilkan buah yang indah

Di lingkup yang lebih luas, ternyata orang yang suka bersaudara mendapat tambahan saudara karena pada prinsipnya orang selalu ingin bersaudara.


Bersaudara tidak dihalangi oleh pelbagai perbedaan

Hari Senin 18 Mei 2010, Anggota Senat Amerika bidang kebebasan beragama, di bawah pimpinan Scott Flipe PhD, hadir di Pesantren Nurul Umahat, salah satu pos Forum Persatuan Umat Beriman (FPUB), dan terjadilah persaudaraan yang meriah.

Juga, 25 Juli 2010, perwakilan 11 Negara Asia bersama kami kumpul-kumpul dan sharing di Sanggar Candi Sapta Rengga (Pusat Penghayat Kerohanian Sapta Dharma)


Suasana saling belajar, sharing keadaan dan rencana tindak lanjut, itu menjadi salah satu buah persaudaraan.

Sering ada image negatif pandangan masyrakat dengan aparat, terutama zaman study di Seminari Tinggi Kentungan terhadap anggota Yonif 403. Namun, sudah beberapa bulan ini, saat Dan Yonif 403 WP Let. Kol. Inf. Satrijo Pinandjojo mengajak kami untuk bekerja sama dalam karya persaudaraan. Pak Satriyo, panggilan dari kami, meminta pekerjaan bagi para anggotanya. Kami pernah mengusulkan agar anggota Yonif membersihkan sungai di Kaligede dapat terlaksana dengan baik, kemudian masih meminta kami untuk mengatur pekerjaan bagi masyarakat. Kami menginginkan anggota Yonif untuk aksi penanaman pohon di Kulon Progo (namun bibitnya hanya 2.000) padahal seluruh anggota ada 750 personal.

Selasa, 3 Agustus 2010, kami diundang untuk menghadiri Ulang Tahun Yonif 403. Yang dipimpin oleh Dan. Rem. 072 Pamungkas Kol. CZI Soepeno berlangsung cukup akrab dan meriah. Memang, pertama agak canggung, komunikasi menjadi cair dengan hadirnya orang-orang FPUB, Sultan HB X, dan beberapa komandan yang telah sekian lama bekerja sama dengan kami.



Mari bersahabat dengan semua orang yang berkehendak baik

Ketika persaudaraan tumbuh berkembang dengan ketulusan hati, maka hidup menjadi bermakna dan penuh arti.

“Ketika saudaraku meniup seruling aku ikut menari, ketika saudaraku menyanyikan kidung duka, aku tergugah untuk menghibur”.

Seperti yang saya tulis di beberapa waktu yang lalu, kami juga merencanakan untuk membuat acara berbagi berkah (Meski pun tidak banyak yang menanggapi). Sampai saat ini saya dan team PSE sedang mengontak beberapa pemerhati untuk kegiatan pasar murah jelang lebaran. Soalnya, bagi masyarakat kecil, hari-hari menjelang lebaran menjadi kepanikan tersendiri, terutama di lereng Merapi. Akan lebaran, salak tidak berbuah, semua harga melambung tinggi. Sanak saudara akan datang dan menginap beberapa hari. Njuk piye? (Terus bagaimana?) Acara tersebut, selama empat tahun ini telah selalu kami buat. Meski pun tertatih-tatih, namun kami boleh bersyukur bahwa masyarakat menanggapi dengan antusias. Seperti yang dirapatkan Senin sore, 4 Agustus 2010 kemarin, beberapa anggota Komsos (Komunitas Sosial Somohitan) banyak mendapat pesanan dari masyarakat, “Apakah menjelang lebaran besuk, pihak Posko di Gereja Somohitan akan mengadakan acara pasar murah?"


Suasana Berbagi Berkah di halaman Kelurahan Girikerto, tahun 2009 Yuuuuk.
Turbin 
Monday, July 19, 2010, 16:10 - Sosial/Kemasyarakatan Posted by romoyatno


MIKRO HIDRO SOMOHITAN
AIR KEHIDUPAN LERENG MERAPI

Y. Suyatno Hadiatmojo Pr


Bersahabat dengan alam ternyata membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran, dll. Ternyata, alam mempunyai perasaan juga. Saya ingat kegiatan untuk menjaga kelestarian alam di lereng Merapi, itu telah kami mulai sejak tahun 2004. Kala itu bersama masyarakat, kami mengadakan peringatan sepuluh tahun bencana Wedhus Gembel (awan panas dari kawah gunung yang membumbung ke langit). Pralon air karya Rm. Rutten SJ termasuk korban awan panas, hingga air yang mestinya bisa memberi minuman segar malah tertutup oleh abu, bekas terbakarnya hutan lereng Barat Merapi. Seperti tergugah oleh tangisan alam, kami berniat, bersama seluruh warga, untuk menjaga dan merawat alam dengan menanam pelbagai tanaman kayu, perindang dan penjaga mata air, berupa bibit preh, beringin, gayam, enau, mahoni dll. Tanaman yang terkumpul adalah murni dari masyarakat: pesantren, polisi, warga di seputar Sleman, semua kurang lebih berjumlah 17.000 pohon. Ditanam bersama-sama, seperti semut yang menggotong sobekan daun.

Sejak itu pemerintah dan pelbagai kelompok dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun teruss menanami pohon. Bahkan rotary Club, Budha Su Chi dari Taiwan pun ikut menyumbangkan 40.000 pohon mahoni untuk ditanam di lereng Merapi. Demikian pula setiap acara adat Mertibumi tahunan di Girikerto, Somohitan, selalu kami adakan acara baku penanaman pohon. Tidak ketinggalan, kesempatan-kesempatan acara Gerejani kami adakan acara penanaman pohon. Dua tahun yang lalu, saat Mgr. Suharyo memberi Sakramen Krisma di Somohitan, juga menyediakan pohon buah manggis, durian, jeruk, duku dan rambutan sejumlah krismawan-krismawati. Saat itu, selesai Ekaristi agung, Mgr. Suharyo memberikan kenangan berupa cenderamata dan sebuah pohon kepada para krismawan-krismawati untuk ditanam di rumah masing-masing.

Namun tantangan selalu menyertai, pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan sesaat banyak yang menjual pasir di lahan mereka, tanpa sadar merusak alam dan membahayakan keberadaan mata air di lereng Merapi. Karena itu, terpaksa saya melaporkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk bersabda dan menghentikan pengrusakan alam di lereng Merapi. Ternyata betul, waktu beliau memberi Sabda Narendra saat acara Mertibumi di Girikerto 9 Februari 2010, beliau mengatakan:”Alam adalah sahabat kita, alam mampu memberikan bencana namun bisa juga memberikan berkah kepada manusia. Bila manusia merawat dan menjaga alam, alam akan memberikan kesuburan dan barokah kepada manusia. Karena itu, saya minta pengrusakan alam dan penggalian pasir di pekarangan harap segera dihentikan. Bila tidak berjalan, saya akan datang dan menghentikan kegiatan pengrusakan alam”. Kontan para pejabat yang hadir seperti kebakaran jenggot, segera setelah acara selesai, mereka turun ke lapangan untuk menghentikan kegiatan pengrusakan alam.

Ternyata benar, dengan terjaganya alam, alam akan memberikan anugerah kepada warga masyarakat. Mata air yang dahulu dikhawatirkan hilang mulai memancar lagi. Karena itu muncul ide dalam diri saya untuk memanfaatkan air yang lewat di depan pastoran Somohitan, siapa tahu menghasilkan listrik.


Ide pembuatan Mikro Hidro sudah kami pikirkan cukup lama bahkan tempatnya sudah kami siapkan, percobaan telah kami lakukan beberapa kali. Akhirnya, kami mendapatkan sponsor dari Bpk. Bimo UD Rekayasa Pakem yang membantu kami merangkai Turbin. Saya coba menyiapkan tempat, dinamo, persediaan air dan teknik ala kadarnya (Maklum waktu di Seminari tidak diajari teknik listrik kecuali saat jadi anggota podium). Rakitan dan rangkaian membutuhkan waktu dua minggu. Sampai hari Rabu, 9 Juni 2010, semua sudah terpasang, namun hantaman air belum mampu menggerakkan turbin secara cepat. Kemudian saya mulai membuat fantasi:

Kalau jerami dengan berat 100 kg. diikat dengan kuat lalu dijatuhkan ke tubuh manusia tentu akan menimbulkan rasa sakit, namun kalau jerami dengan berat yang sama namun tidak diikat alias tersebar untuk menimbun seseorang, paling cuma gatal dan pengap. Hasil “meditasi” itu kami wujudkan bahwa air yang menghantam Turbin mesti langsung dari pipa, bukan air yang dipancarkan. Karena itu kami coba beli pipa di Jogja, segera kami potong untuk mengalirkan air langsung menimpa roda turbin. Da...n, dinamo bisa menghasilkan listrik cukup lumayan, bisa untuk 20 lampu neon, bahkan untuk menggerakkan bor beton pun lancar-lancar saja. Sekarang tinggal distribusi untuk kebutuhan pastoran dan posko. Warga sekitar ikut bersuka cita, ada yang mengusulkan untuk diadakan syukuran dan kenduri.

Itulah alam. Bila kita bersahabat ternyata amat besar kontribusinya untuk manusia. Alam-ku sahabatku! Somohitan, 11 Juni 2010


| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | Next> Last>>

 
    Login Admin        @copyright 2010 ADITUSOFT.COM     LoginMember