
RENUNGAN MINGGU BIASA KE XVIII C:
Hidup Penuh Rasa Syukur
|
Dengan cermat Yesus justru menangkap soal itu untuk memberikan ajaran baik kepada yang bersangkutan maupun kepada para pendengarnya. Soal rebutan warisan adalah nafsu manusia yang begitu pengin memiliki harta (baik miliknya atau milik orang lain), jangan dibebankan pada Tuhan. Kok Tuhan mau diajak kompromi untuk memihak. Justru Yesus memberi peringatan: Awaslah dengan nafsu ketamakan. Orang begitu mendewa-dewakan harta sampai lupa akan nilai dari harta. Bila harta menjadi dewa atau bahkan tuhannya, orang akan kecewa. Sebab, seluruh hati, pikiran dan tenaganya hanya untuk mencari harta. Sikap demikian bisa membunuh jiwa dan nurani manusia. Apalagi kalau demi harta orang sampai membunuh orang lain. Dan, hilanglah Rasa Syukur. Harta benda itu penting sebagai sarana hidup, namun kebutuhan seorang bukan hanya harta duniawi melainkan juga harta surgawi, yakni kedekatan kepada Tuhan dan sesama. Karena, kebutuhan manusia secara garis besar adalah kebutuhan Raga dan Jiwa. Kebutuhan jiwa adalah ketenangan hati, rasa aman dan syukur, relasi akrab dengan sesama dan dengan Tuhan.
Titik temu kepentingan mencari harta dunia dan harta surga adalah dalam hidup yang penuh rasa syukur. Hidup yang penuh syukur tentu bukan hanya dalam melihat deposito-nya yang banyak atau bertumpuknya kekayaan. Namun, bila harta yang dikumpulkan itu juga dibagikan kepada yang membutuhkan. Perlu diberi catatan bahwa menurut KH. Muhaimin, yang disebut Harta dalam al Qur’an bukan hanya benda atau uang. Harta itu termasuk kesegaran hidup, angin segar, kesehatan, bersahabat dengan orang, dll. Yang disebut KHARAM adalah harta yang dicari secara salah. Harta seperti itu kalau dinikmati, kesalahan itu akan mengalir kepada yang ikut menikmati harta tersebut. Seperti tinta yang mengalir di bak air, sehingga siapa yang meminum akan tercemar oleh tinta tersebut. Sebaliknya, kalau harta yang dimiliki didapat dengan jalan yang baik dan bermanfaat bagi orang lain akan menjadi kelegaan. Kelegaan itu bagi umat Katolik akan diungkapkan dalam Ekaristi Kudus yang dirayakan bersama.
|

HONDA MERAH
Saya juga punya pengalaman dengan Romo Pujo ... eh Mgr Pujo dengan Honda Merahnya. Pada waktu itu ada beberapa orang yang ingin ke Ambarawa atau Goa Kerep dengan berjalan kaki, mungkin adik kelas kita. Sebagai pamong umum yang bertanggung jawab, Sabtu sore, Romo Pujo ingin ngaruhke (menyapa) para seminaris yang diperkirakan sudah sampai di Ambarawa. Seperti Trinug, saya juga ditawari untuk ikut mbonceng naik Honda Merah beliau. Namun, saya tidak ngantuk. Sampai di Ambarawa sudah sore, sungguh sore sekitar jam 18.30. Sesudah ngomong-ngomong dengan beberapa seminaris yang kelelahan, kami pulang menuju ke Mertoyudan.
![]() ![]() |
Tiba-tiba, dari dalam rumah yang agak megah, terdengarlah suara seorang anak yang bernyanyi "Semua jalan di dunia, menuntunku ke surga, desiran angin nan mesra menuju pada Bapa". Seperti mukjizat, kami spontan berdiri dan menuju rumah asal suara nyanyian tadi. Dengan sangat pede kami mengetuk pintu. Tuan rumah yang belum tidur langsung membuka pintu dan mempersilahkan masuk, dan romo Pujo langsung memperkenalkan diri, "Saya romo Pujo dari Seminari Mertoyudan......" Tuan rumah dengan ramah menjawab, "Oh ya mari pak. Bapak dari mana?" Jawab Romo Pujo, "Saya Romo Pujo dari Seminari Mertoyudan". "O ya, baik pak", jawan Si empunya rumah. "Maaf ... tadi saya dengar anak bapak menyanyi 'Semua bunga dari Madah Bakti', maka saya berani mengetuk pintu. Oh iya pak, dia kami sekolahkan di Teresiana dekat situ. Meski kami bukan Katolik tapi kami senang menyekolahkan anak kami di situ karena dididik secara disiplin.
Wajah Romo Pujo agak berubah. Namun, ternyata bapak itu malah bertanya, "kenapa bapak mampir di sini?" Ada kepentingan apa?", tanya tuan rumah. "Anu ... sepeda motor saya mogok. Kami mau nitip sepeda motor dan mau naik bus, besuk satu dua hari akan kami ambil". Lalu, dengan ramah tuan rumah mengecek sepeda motor Honda Romo Pujo. Dan, hebatnya orang itu mengatakan yang rusak accunya. "Begini saja pak", katanya "... accu sepeda motor saya bisa bapak pakai, nanti kalau pas ke Semarang bisa dikembalikan".
Kaget wajah Romo Pujo, saya hanya thingak-thinguk (clingak-clinguk) sambil nyeruput teh sajian tuan rumah yang baik itu. Setelah diganti accu, "jeeerrrrr ...", honda kesayangan Romo Pujo dapat berjalan lagi. Sesudah menghabiskan teh manis, kami pamitan. Kami heran akan karya Allah yang serba kebetulan tadi. Dan, Romo pujo (kalau tidak salah) akan mengembalikan accu sambil memberi tanda terima kasih berupa ALPOKAT dari kebun Seminari. Tetapi, kata beliau lagi, Romo Pujo kaget untuk kedua kalinya, karena Si penyelamat itu, setelah menerima APOKAT dari romo Pujo, itu masih mengatakan bahwa "di sini, kami juga punya banyak pohon ALPOKAT, hanya sekarang agak murah". Yeee ... kecelik dua kali. Mgr Pujo masih ingat kah pada peristiwa itu? Berkah Dalem! (Rm Yatno)
|


