Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr
( Romo Yatno )
   
Kotbah Pra paskah I C 
Monday, March 1, 2010, 04:14 - Kotbah Posted by romoyatno
MINGGU KE 2 PRA PASKAH Luk 9,28b-36

Yesus Naik gunung untuk berdoa

Ringkasan Injil
Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes sebagai orang-orang kunci naik gunung untuk berdoa. Saat berdoa wajah dan pakaian Yesus bercahaya. Musa dan Elia menemui Yesus. Mereka berdiskusi tentang puncak karya Yesus untuk menjadi penebus yang akan terjadi dengan sengsara dan wafat-Nya di Yerusalem. Saat kemuliaan masih berlangsung, para murid tertidur. Saat kaget dan bangun mereka usul: Enak sekali di sini, baiklah kami akan mendirikan 3 kemah satu untuk Yesus, satu untuk Musa dan satu untuk Elia. Saat Yesus sendirian terdengarlah suara: ”Inilah putera kesayanganku, kepada-Nya lah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”

Beberapa point permenungan:
1. Yesus naik gunung untuk berdoa

Dalam kegiatan-kegiatan yang bernuansa sakral, orang sering menggunakan Tumpeng. Tumpeng lambang gunung. Biasanya bagian bawah tumpeng ada macam-macam warna dan rasa, semakin memuncak semakin tanpa hiasan. Ini mau menggambarkan bahwa pada saat-saat penting kita perlu meninggalkan dunia keramaian dan masuk dalam keheningan. Maka, tumpeng punya arti TUmuju Marang PENGeran (Menuju kepada Allah). Kalau dalam dunia pewayangan jawa, tumpeng disimbulkan dalam gunungan. Gunungan atau kayon yang berasal dari kata KAYUN, itu artinya hidup. Wayang atau kehidupan manusia akan dimulai ketika Gunungan atau Kayon atau Kayun mulai digetarkan dan ditarikan oleh ki dalang. Ini bermakna bahwa Hidup sejati akan mulai berlangsung bila Sang Dalang Ilahi mulai menciptakan kehidupan sejati dalam diri manusia. Jadi, tumpeng berarti Hidup sejati. Hidup sejati terjadi bila orang berada di puncak gunung samadi dan berdoa dan bertemu dengan Tuhannya, seperti Yesus di puncak gunung untuk bertemu dengan Bapa di Surga. Maka, kita akan menyuburkan hidup batin, bila kadang kita menyepi, samadi agar bisa bertemu hati dengan Tuhan. Doa adalah dialog pribadi dengan Tuhan.

2. Waktu berdoa, kemuliaan terpancar dari wajah dan pakaian Yesus

Bandingkan dengan saat orang melihat orang-orang yang yang pro kontra tentang bank Century atau Rapat Partai dengan orang yang pulang dari Misa di gereja. Yang pertama, saat berangkat wajah ceria, tetapi saat pulang wajah kuyu, terutama ketika menjadi tertuduh atau kalau kalah dalam debat kusir. Sedang yang kedua, saat berangkat berbeban berat penuh kepenatan hidup, namun saat pulang dari Gereja berwajah ceria, seperti ada pancaran rahmat dari Tuhan. Pernah ada seorang tambal ban yang memberi kesan: ”Saya itu heran kalau orang-orang Katolik pulang dari gereja kok kelihatannya ramah-ramah dan senang, hampir tidak ada yang mbesengut, alias cemberut.

3. Dua tokoh perjanjian Lama, Musa dan Elia rapat khusus dengan Yesus.

Saya gambarkan bahwa Musa dan Elia adalah utusan surga untuk rapat emergency dengan Yesus untuk konfirmasi, bahasa Jawanya ditanting. Betulkah Yesus benar siap sedia menjadi penebus? Dengan risiko menderita sengsara dan mati di salib. Kalau gak mau berarti karya penebusan gagal, kalau siap berarti siap sengsara dan mati, tetapi jaminan keselamatan bagi semua manusia terjamin. Jadi, pertemuan tiga serangkai itu untuk membahas Hidup Mati-nya Yesus dan risiko yang harus dipanggul Yesus. Saya pikir ini terjadi pergulatan hebat. Ya dan tidak! Bayangkan orang sakit saja diobati, kok orang sehat mau sengsara dan mati padahal bisa menghindar kalau mau. Urip pisan (hidup sekali) kok sengsara. Akhirnya, setelah pergulatan batin, Yesus berani memutuskan SAYA SIAP JADI PENEBUS APA PUN RISIKONYA. Musa dan Elia adalah saksi dari kesiapan Yesus. Da…an, Bapa di surga begitu terharu dan bahagia, karena Putra-Nya taat. Maka, sabda surga yang bergema: ”Inilah Putra Kesayangan-Ku, kepada-Nya lah Aku berkenan. Dengarkanlah Dia”.

Refleksi:
a. Seluruh umat Kristiani yang terkasih dan siapa saja, tolong kalau memutuskan sesuatu yang penting selalu: ”Dalam suasana Doa”, cara ini biasanya akan menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya, kalau asal memutuskan, keputusan asal-asalan, buahnya juga asal-asalan. Misal, asal memilih jalan hidup, hidupnya juga asal hidup, buahnya waton (asal) hidup, tidak hidup yang maton (benar).

b. Berbeda dengan Janji Yesus yang taat jadi penebus dengan segala konsekwensinya dengan Janji/sumpah orang saat dilantik menjadi pejabat tertentu. Saat dilantik ya-ye ya – ye, tapi akhirnya ada nya sibuk, “Tinggal glanggang colong jupuk” (ditinggal tanpa tanggung jawab sambil mengambil untung).

4. Para murid kesayangan Yesus “tertidur” dan usul mendirikan 3 kemah

Nah, ini menyangkut kelemahan manusiawi. Orang yang tertidur, bisa karena ngantuk, bisa pula karena pura-pura tidur, bisa karena suka bersandar pada tembok yang maha kuasa (artinya, di mana pun juga orang mudah tidur). Sering terjadi dalam kehidupan bahwa ketika ada persoalan atau pekerjaan atau permintaan bantuan, banyak orang yang pura-pura tertidur. Bayangkan, Yesus yang akan mengalami kesengsaraan dan kematian, para murid-Nya yang terhormat malah tertidur. Kan mirip dengan orang, ada panitia reuni yang sibuk urus ini itu dan cari dana ke sana kemari, ada yang tenang-tenang dan ketika acara sudah beres baru menampakkan diri duduk paling depan, berbicara keras tapi keliru. Kayaknya para murid yang tidur, biar tidak diserahi tanggung jawab. Seperti dalam keluarga, ketika banyak pekerjaan pura-pura tidur, tetapi ketika masakan sudah matang paling dahulu makannya. Biasa lah dalam hidup, orang yang kurang bertanggung jawab sering membelokkan persoalan. Ke 3 murid itu mencoba membelokkan keadaan dengan “Tuhan enak sekali di sini. Mbok kita mendirikan 3 tenda, satu untuk Yesus, Musa dan Elia. Karena, ingin lepas dari tanggung jawab. Pura-pura mengira bahwa ke atas gunung para murid diajak Yesus untuk rekreasi. Ketika orang sudah mengalami kenikmatan jadi terlena dan wegah (malas) untuk turun di dunia nyata yang penuh masalah. Nek bisa Golek kepenak (Kalau bisa, cari yang enak). Nek sedang ada kesibukan dan kerepotan: Mencari alasan untuk TINGGAL GLANGGANG COLONG PLAYU atau Joyoendo (Pandai menghindar).

5. Terdengar suara dari surga: Inilah Putera kesayangan-Ku kepada-Nya lah Aku berkenan. Dengarkan lah Dia

Kira-kira kita termasuk menjadi pendengar sabda, pewarta sabda atau pelaksana sabda. Jelasnya, kita termasuk yang suka bicara tentang masalah atau berhadapan dengan masalah. Kalau kita menggunakan model Yesus, maka sebutan itu layak diterapkan kepada kita: “Kamu adalah putra-Ku yang terkasih, kepada-Mu Aku berkenan”.
(Rm Yatno, Sabtu 27 Feb)

Kotbah Minggu Biasa IVC 
Saturday, January 30, 2010, 06:33 - Kotbah Posted by romoyatno
IMAN, HARAPAN DAN KASIH

Yeremia
Semua orang dipanggil untuk menjadi nabi para bangsa, menjadi berkat bagi semua orang. Semua orang dipanggil untuk berhasil atau sukses.

Korintus:
Hendaklah saling mengasihi, harapan agar semua orang berkembang dalam iman, harapan dan kasih.

Injil Lukas:
Yesus membaca Kitab Yesaya: "Roh Tuhan ada pada-Ku, Ia telah mengurapi Aku. Aku diutus untuk ..."

Semua orang membenarkan dia sebagai guru yang penuh kebijaksanaan. Namun, orang yang tidak suka, mengamat-amati Dia, bahkan berusaha untuk menjatuhkan ketenaran-Nya. Caranya, dengan bermain kotor: Mencari pengaruh untuk mendapatkan posisi. Maka, kritik yang dimunculkan adalah menggunakan Teknik Asal Usul: ”Whalah jadi orang yang hebat, tapi ming anakke (cuma anaknya) tukang kayu, kok sok hebat”.

Yesus: ”Seorang nabi dihormati di mana-mana tetapi tidak di daerahnya sendiri”.

Kalau orang sudah tidak senang, kebaikan apa pun yang diperbuat selalu dilihat kekurangannya. Namun, orang yang hanya sibuk mengamati kekurangan orang lain, biasanya malah semakin gagal. Seandainya berhasil, itu hanya sementara.

Contoh: Sebuah warung bakso yang laris. Orang yang iri hati, lalu memprovokasi masyarakat: ”Jangan beli bakso di situ, karena pemiliknya memelihara buta ijo (raksasa hijau). Atau, saat ramai orang jajan di warung itu, yang iri hati tiba-tiba datang dan melabrak Si pemilik warung: ”Kamu mesti pakai aji penglarisan (jimat pelaris). Hayo hook o ora? Nek ora buktekna. Opo kowe ora mesakake, nek sing dho tuku mrene dadi korbane ingon-ingonmu (Iya enggak? Kalau tidak buktikan. Apa kamu tidak kasihan kalau yang membeli ke sini menjadi korban tumbal piaraanmu.) Orang-orang yang biasanya datang beli bakso, pasti akan terpengaruh, lalu mungkin malah bisa marah dan mengusir Si penjual bakso tersebut.

Orang tersebut tidak tahu PAITANE (MODAL) YANG BANYAK. Bukan hanya modal duit, tetapi masa-masa perjuangan yang pahit getir, rekoso (sengsara). Modal kecil, dll., hanya TIBA-TIBA KEPINGIN SUKSES ATAU KEPINGIN SUKSES TIBA-TIBA. Lalu, orang berusaha untuk membeli warung yang laris tadi. Ketika warung tersebut sudah dimiliki, warung itu semakin tidak laris, bahkan semakin lama pembeli semakin berkurang. Bila tidak mau belajar bahwa larisnya suatu warung, bukan hanya ditentukan strategis, tetapi rasa masakannya, ramah-tamah, kecepatan dalam pelayanan, kebersihan, dll, ia akan gagal.

Dalam Injil hari ini, nampak juga bahwa Yesus termasyur, dikagumi banyak orang. Ketenaran dan keberhasilan Yesus rupanya menimbulkan iri hati dari orang-orang Farisi dan tokoh-tokoh masyarakat yang khawatir akan kehilangan pengaruhnya. Maka, untuk menaikkan pamor, mulai dengan lihai menggoyang Yesus. Caranya: mulai dengan "Alllaaah, hebat-hebata ming anakke Yusup dan Maria wae, bisa opo?" (Hallah, hebat seperti apa hanya anaknya Yusup dan Maria, bisa apa?) Mending aku, anak raden (bangsawan), kaya dan punya duit. Mereka demi gengsi, tidak mau berguru pada Yesus tetapi berusaha menjatuhkan Yesus.

Kalau bermain bersih:
Ada penjual bakso yang sukses. Tetangganya kepengin sukses juga, tapi tidak tahu caranya. Maka, dengan rendah hati, pada waktu warung sudah tutup, datang ke pemilik warung dan berguru. Berapa lama menanggung kepahitan? Rekasane opo (sengsaranya apa) ketika memulai. Bagaimana asal mulanya kok sekarang bisa berhasil, ada orang yang berhasil, terus koreksi diri, mengapa aku gagal atau tidak berhasil. Kalau misalnya saya jual es atau wedang (minuman) di dekat warung baksonya, apa diperbolehkan. Lalu, memperbaiki diri, kalau perlu berguru kepada yang telah berhasil agar bisa seperti mereka yang sukses. Keberhasilan akan dirasakan nikmat bila melalui perjuangan yang berat. Bila keberhasilan didapat dalam waktu singkat, singkat pula daya tahan keberhasilannya. Inilah yang dimaksud: Iman, harapan dan kasih.

Demikian pula yang minggu-minggu ini sedang terjadi di Yogya dan sedang kami bela. FPUB adalah salah satu organ masyarakat Yogya yang telah 13 tahun berkiprah bersama elemen-elemen masyarakat, aparat dan Kraton, sedikit banyak telah berperan dalam menjaga keamanan dan perdamaian Yogyakarta. Namun, orang-orang yang kepingin mempunyai kedudukan di Yogya, melontarkan Yogya Serambi Madina. Alasan yang ditawarkan: ”Kelihatan apik-apik, dakik-dakik dan kelihatannya akan semakin baik” Tetapi saya yakin, kalau mereka yang mengendalikan masyarakat Yogya, justru yang terjadi akan sebaliknya. Yang sudah berjalan baik akan diatur dengan cara mereka, sehingga yang sudah baik bisa jadi malah rusak. Karena ketika orang yang diomongkan yang indah-indah dan kelihatan sangat menguntungkan, biasanya menyembunyikan sesuatu yang akan sangat merugikan orang banyak. Sebaliknya, ketika kita duduk bersama, mencari kebaikan bersama, perbedaan bukan sebagai ancaman, tetapi rahmat dan kekayaan akan ketemu. Dan, berjalan dengan manis.


| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | Next> Last>>

 
    Login Admin        @copyright 2010 ADITUSOFT.COM     LoginMember