<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed version="0.3" xmlns="http://purl.org/atom/ns#" xml:lang="en-US">
	<title>Social Religion : Website Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr </title>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="http://romoyatno.info/mainmessage.php" />
	<modified>2010-09-06T01:37:34Z</modified>
	<author>
		<name>Suyatno Hadiatmojo Pr </name>
	</author>
	<copyright>Copyright 2010, Suyatno Hadiatmojo Pr </copyright>
	<generator url="http://www.sourceforge.net/projects/sphpblog" version="3.0">SPHPBLOG</generator>
	<entry>
		<title>ASG</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry100805-181233" />
		<content type="text/html" mode="escaped"><![CDATA[
<a href="http://www.eternal-productions.org/72dpi/catholic/catholic_banner_flat72.jpg" target="_blank" ><img src="http://www.eternal-productions.org/72dpi/catholic/catholic_banner_flat72.jpg" width="460" hight="110"></a></a><br><br>

<b>ASG: NGELMU NYEDULUR</b><p>

<h1>AJARAN SOSIAL GEREJA MODEL SOMOHITAN</h1><p>

Telah saya coba membaca dan merenungkan Ajaran Sosial Gereja (ASG), baik waktu kuliah di Kentungan maupun beberapa tulisan yang ada di millis para Romo Keuskupan Agung Semarang. Wah, kata-katanya banyak dan malah menjadi <i>mumet</i> (pusing). Namun, tulisan Mgr. Pujo lumayan, bisa menjadi landasan berpikir. Saya setuju banget kalau di Bulan Agustus, pas HUT RI Ke 65, Gereja mengajak kalau Bulan Agustus ini Menjadi Bulan ASG. <i>Mumetku</i> (pusingku) itu disebabkan banyak sebab. Karena, bagi saya, pribadi di zaman yang sulit ini, terutama yang dialami oleh saudara-saudara yang KLMT di lereng Merapi, yang mayoritas bekerja di bidang agraris, diminta untuk belajar ASG, jadi makin <i>mumet</i>. Masyarakat agraris biasanya lebih senang mendengar, <i>glenak-glenik</i> (bisak-bisik), lalu bekerja dibanding belajar pemahaman. Setelah membaca sabda Kristus di Luk. 7,32: “Kami meniup seruling tetapi kamu tidak menari. Kami mengidungkan kidung duka tetapi kamu tidak menangis”, saya malah takut kalau di Somohitan kami adakan Seminar. Tuhan Yesus marah sebab kepekaan terhadap sesama lemah, yang besar adalah <i>kepeko’an</i>.<p>

Menurut pemahaman saya, lepas dari ilmu-ilmu dan  ajaran Sosial, pada dasarnya ASG adalah ajaran dan ajakan bagaimana Gereja mesti memahami dan MELAKUKAN NGELMU SRAWUNG. Atau, ilmu untuk bergaul dan bersahabat ber “socius” dengan pihak lain. Tetapi, kata alm Rm. Anton Bakker SJ, keseimbangan Pribadi Manusia yang Seimbang adalah kalau antara besarnya kepala, badan dan anggota tubuh seimbang. Menjadi tidak seimbang bila orang kepalanya besar sekali tetapi badan dan anggotanya kecil-kecil dan kurus. Karena itu masyarakat Jawa ada <i>unen-unen</i> (ungkapan): “Ngelmu iku kelakone kanthi laku” (Belajar itu terjadi melalui tindakan). Singkat kata, Ajaran Sosial Gereja mesti menjadi ilmu untuk bertindak. Atau, ilmu tentang bersaudara untuk mendasari tindakan orang dalam bersaudara dengan pihak lain. Kata Saudara pun sudah sangat mendalam, yakni ber-seudara, senafas, senasib, seperasaan, seperjuangan. Kesedihan orang lain juga menjadi kesedihanku, kegembiraan orang lain juga menjadi kegembiraanku. Karena itu agar bisa bersaudara, perlu ada perjumpaan. Agak aneh, kalau Pengkotbah  mengatakan: ”Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan…”, tetapi marah-marah. Ini berarti pembicara sudah menolak kata-katanya sendiri. Sebab, saudara berarti hubungan sehati masih ditambah Yang Terkasih. Berarti hubungan hati dan perasaan amat dekat.<p>

Kembali di wilayah lereng Merapi yang mayoritas masyarakat agraris, telah banyak orang yang mempraktikkan NGELMU SRAWUNG (ilmu bergaul). Meskipun masyarakat  berbeda agama, pangkat-derajat, namun dalam kesehatian tidak ada lagi rasa canggung. Kecanggungan ini disebabkan oleh jarang bertemu. Dalam pelbagai kesempatan, saling bertemu sungguh menjadi sarana tumbuhnya PERSAUDARAAN.<p>

Beberapa contoh yang sekarang mulai hidup lagi adalah <i>Nyadran</i> di bulan Ruwah. Sebelum puncak acara, ratusan bahkan ribuan orang mengadakan bersih kubur dan menghias kuburan dengan aneka “rerenggan” dilanjutkan acara temu <i>trah</i> (keturunan), doa bersama, tabur bunga makam leluhur, dan akhirnya makan bersama. Saat tabur bunga, mereka yang sudah lanjut usia menceritakan pada keturunannya relasi persaudaraan antara si A dan si B. Di situ <i>ngelmu</i> bersaudara sudah menjadi praksis. Karena, yang sebelumnya belum kenal atau belum tahu disadarkan bahwa masih ada hubungan persuadaraan.<p>




<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<img src="http://romoyatno.info/allimages/romoyatno_Makam.jpg"  width="230" hspace="20" popup=false></a></td></tr></table>

<b>Bersaudara di rumah masa depan. Kita antre tunggu panggilan</b><p>

 

Di samping itu masih banyak contoh, misalnya kerja bakti bersih kampung, <i>Mertibumi</i>, penghijauan, dll. Selama <i>nyedulur</i> (bersaudara) dengan banyak orang di pelbagai lapisan masyarakat, saya merasakan hidup itu indah. Tetangga adalah sahabat. Alam pun menjadi saudara. Orang tidak canggung meminta bantuan kepada orang yang telah akrab. Demikian pula bila orang datang untuk meminta bantuan, bukan untuk dicurigai.<p>


<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<a href="http://xa.yimg.com/kq/groups/17510854/sn/111134438/name/jbt-6.jpg" target="_blank" ><img src="http://xa.yimg.com/kq/groups/17510854/sn/111134438/name/jbt-6.jpg" width="230" hspace="20"></a></a></td></tr></table>

<b>Persaudaraan biasanya menghasilkan buah yang indah</b><p>

 

Di lingkup yang lebih luas, ternyata orang yang suka bersaudara mendapat tambahan saudara karena pada prinsipnya orang selalu ingin bersaudara.<p>


<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<img src="http://romoyatno.info/allimages/romoyatno_USA-3.jpg" width="230" hspace="20" popup=false></a></td></tr></table>

<b>Bersaudara tidak dihalangi oleh pelbagai perbedaan</b><p>

 

Hari Senin 18 Mei 2010, Anggota Senat Amerika bidang kebebasan beragama, di bawah pimpinan Scott Flipe PhD, hadir di Pesantren Nurul Umahat, salah satu pos Forum Persatuan Umat Beriman (FPUB), dan terjadilah persaudaraan yang meriah.<p>



Juga, 25 Juli 2010, perwakilan 11 Negara Asia bersama kami kumpul-kumpul dan sharing di Sanggar Candi Sapta Rengga (Pusat Penghayat Kerohanian Sapta Dharma)<p>


<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<a href="http://xa.yimg.com/kq/groups/17510854/sn/2093867342/name/37.jpg" target="_blank" ><img src="http://xa.yimg.com/kq/groups/17510854/sn/2093867342/name/37.jpg" width="230" hspace="20"></a></a></td></tr></table>

<b>Suasana saling belajar, sharing keadaan dan rencana tindak lanjut, itu menjadi salah satu buah persaudaraan.</b><p>

Sering ada image negatif pandangan masyrakat dengan aparat, terutama zaman study di Seminari Tinggi Kentungan terhadap anggota Yonif 403. Namun, sudah beberapa bulan ini, saat Dan Yonif 403 WP Let. Kol. Inf. Satrijo Pinandjojo mengajak kami untuk bekerja sama dalam karya persaudaraan. Pak Satriyo, panggilan dari kami, meminta pekerjaan bagi para anggotanya. Kami pernah mengusulkan agar anggota Yonif membersihkan sungai di Kaligede dapat terlaksana dengan baik, kemudian masih meminta kami untuk mengatur pekerjaan bagi masyarakat. Kami menginginkan anggota Yonif untuk aksi penanaman pohon di Kulon Progo (namun bibitnya hanya 2.000) padahal seluruh anggota ada 750 personal.<p>

Selasa, 3 Agustus 2010, kami diundang untuk menghadiri Ulang Tahun Yonif 403. Yang dipimpin oleh Dan. Rem. 072 Pamungkas Kol. CZI Soepeno berlangsung cukup akrab dan meriah. Memang, pertama agak canggung, komunikasi menjadi cair dengan hadirnya orang-orang FPUB, Sultan HB X, dan beberapa komandan yang telah sekian lama bekerja sama dengan kami.<p>

<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<img src="http://romoyatno.info/allimages/romoyatno_403-1.jpg" width="230" hspace="20" popup=false"></a><td></tr></table>

 
<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<img src="allimages/romoyatno_403-2.jpg" width="230" hspace="20" popup=false></a></td></tr></table>

 

<b>Mari bersahabat dengan semua orang yang berkehendak baik</b><p>

 

<b>Ketika persaudaraan tumbuh berkembang dengan ketulusan hati, maka hidup menjadi bermakna dan penuh arti.</b><p>

“Ketika saudaraku meniup seruling aku ikut menari, ketika saudaraku menyanyikan kidung duka, aku tergugah untuk menghibur”.<p>

Seperti yang saya tulis di beberapa waktu yang lalu, kami juga merencanakan untuk membuat acara berbagi berkah (Meski pun tidak banyak yang menanggapi). Sampai saat ini saya dan team PSE sedang mengontak beberapa pemerhati untuk kegiatan pasar murah jelang lebaran. Soalnya, bagi masyarakat kecil, hari-hari menjelang lebaran menjadi kepanikan tersendiri, terutama di lereng Merapi. Akan lebaran, salak tidak berbuah, semua harga melambung tinggi. Sanak saudara akan datang dan menginap beberapa hari. <i>Njuk piye?</i> (Terus bagaimana?) Acara tersebut, selama empat tahun ini telah selalu kami buat. Meski pun tertatih-tatih, namun kami boleh bersyukur bahwa masyarakat menanggapi dengan antusias.  Seperti yang dirapatkan Senin sore, 4 Agustus 2010 kemarin, beberapa anggota Komsos (Komunitas Sosial Somohitan) banyak mendapat pesanan dari masyarakat, “Apakah menjelang lebaran besuk, pihak Posko di Gereja Somohitan akan mengadakan acara pasar murah?"<p>


<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<img src="allimages/romoyatno_IMG_4625.jpg" width="230" hspace="20" popup=false></a></td></tr></table>

<b>Suasana Berbagi Berkah di halaman Kelurahan Girikerto, tahun 2009</b>

Yuuuuk.
]]></content>
		<id>http://romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry100805-181233</id>
		<issued>2010-08-05T00:00:00Z</issued>
		<modified>2010-08-05T00:00:00Z</modified>
	</entry>
	<entry>
		<title>Sakit Jiwa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry100803-190246" />
		<content type="text/html" mode="escaped"><![CDATA[
<a href="http://www.gcmcpa.org/images/bannerFindaDoctor.jpg" target="_blank" ><img src="http://www.gcmcpa.org/images/bannerFindaDoctor.jpg" width=460" hight="110"></a></a><br><br>

<b>Dokter Jiwa & 3 Pasien</b><br><br>


<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<a href="http://comps.fotosearch.com/bigcomps/CSP/CSP002/k0021287.jpg" target="_blank" ><img src="http://comps.fotosearch.com/bigcomps/CSP/CSP002/k0021287.jpg" width="220" hspace="20"></a></a>
</td></tr></table>


Ada tiga pasien rumah sakit gila. Dokter kepingin mengetes perkembangan pengobatan ketiga pasien. Dokter mengajak mereka duduk di kursi, dan masing-masing diberi mangkuk kosong. Dokter mengatakan: ”Naaah ... ini Soto ayam kesukaan kalian. Coba dimakan!”<p>

Pasien pertama segera mendekatkan tubuhnya ke dekat mangkuk yang di meja, kemudian mengambil sesuatu dari mangkuk tersebut dan seakan memakannya dengan nikmat: ”Nyam ... nyam”. Pikir dokter, waah ... ini masih parah, jadi harus dikembalikan ke sel. Pasien ke dua, segera mengambil sendok dan garpu, dan seakan memakan soto dengan nikmat. Dokter segera mengembalikan ke sel berikut karena orang itu sudah tahu tata krama makan.<p>

Pasien yang ke tiga Cuma diam saja. Dokter mengira pasien itu sudah sembuh, lalu bertanya, "Din, kenapa kamu tidak makan soto di mangkuk di depanmu?" Udin: "Dokter itu bagaimana to? <i>Wong edan..</i> (Si dokter yakin bahwa Udin sudah sembuh). Tapi, setelah diam cukup lama, Udin minta kipas kepada dokter. "Kenapa kamu minta kipas Din?", tanya dokter. “Lha wong kuahnya masih panas kok disuruh makan. Sini aku mau kipasi dulu".

]]></content>
		<id>http://romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry100803-190246</id>
		<issued>2010-08-03T00:00:00Z</issued>
		<modified>2010-08-03T00:00:00Z</modified>
	</entry>
	<entry>
		<title>Harta</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry100803-182915" />
		<content type="text/html" mode="escaped"><![CDATA[
<a href="http://www.concordadventist.org/images/church-banner.jpg" target="_blank" ><img src="http://www.concordadventist.org/images/church-banner.jpg" width="460" hight="110"></a></a><br><br>


<b>RENUNGAN MINGGU BIASA KE XVIII C:</b><p>
<h1>Hidup Penuh Rasa Syukur</h1><br><br>

<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<a href="http://dfmoney.files.wordpress.com/2009/05/gold9.jpg" target="_blank" ><img src="http://dfmoney.files.wordpress.com/2009/05/gold9.jpg" width="220" hspace="20"></a></a>
</td></tr></table>


Dalam Injil hari ini, Yesus dihadapkan pada orang yang mencari solusi untuk pembagian warisan bagi dirinya, "Tolong Tuhan suruhlah saudaraku untuk membagi warisan dengan aku". Pertanyaan ini mengandung maksud ambigu: Sepertinya, orang itu ingin mendapatkan haknya. Mungkin haknya diambil oleh saudaranya. Atau, dikalahkan oleh saudaranya. Namun, bisa jadi orang ini orang yang culas atau <i>uric</i>. Ia ingin mendapatkan warisan bagi dirinya meski bukan haknya. Kalau demikian orang itu ingin mendapatkan pembenaran atas kesalahannya. Atau, mendapatkan PEMBELA. Ini seperti yang sering terjadi di masyarakat kita: Orang salah mencari <i>bolo</i> (pendukung) untuk mendapatkan kebenaran, entah itu “massa peliharaannya atau pembela yang handal”.<p>

Dengan cermat Yesus justru menangkap soal itu untuk memberikan ajaran baik kepada yang bersangkutan maupun kepada para pendengarnya. Soal rebutan warisan adalah nafsu manusia yang begitu pengin memiliki harta (baik miliknya atau milik orang lain), jangan dibebankan pada Tuhan. Kok Tuhan mau diajak kompromi untuk memihak. Justru Yesus memberi peringatan: Awaslah dengan nafsu ketamakan. Orang begitu mendewa-dewakan harta sampai lupa akan nilai dari harta. Bila harta menjadi dewa atau bahkan tuhannya, orang akan kecewa. Sebab, seluruh hati, pikiran dan tenaganya hanya untuk mencari harta. Sikap demikian bisa membunuh jiwa dan nurani manusia. Apalagi kalau demi harta orang sampai membunuh orang lain. Dan, hilanglah Rasa Syukur. Harta benda itu penting sebagai sarana hidup, namun kebutuhan seorang bukan hanya harta duniawi melainkan juga harta surgawi, yakni kedekatan kepada Tuhan dan sesama. Karena, kebutuhan manusia secara garis besar adalah kebutuhan Raga dan Jiwa. Kebutuhan jiwa adalah ketenangan hati, rasa aman dan syukur, relasi akrab dengan sesama dan dengan Tuhan.<p>

Titik temu kepentingan mencari harta dunia dan harta surga adalah dalam hidup yang penuh rasa syukur. Hidup yang penuh syukur tentu bukan hanya dalam melihat deposito-nya yang banyak atau bertumpuknya kekayaan. Namun, bila harta yang dikumpulkan itu juga dibagikan kepada yang membutuhkan. Perlu diberi catatan bahwa menurut KH. Muhaimin, yang disebut Harta dalam al Qur’an bukan hanya benda atau uang. Harta itu termasuk kesegaran hidup, angin segar, kesehatan, bersahabat dengan orang, dll. Yang disebut KHARAM adalah harta yang dicari secara salah. Harta seperti itu kalau dinikmati, kesalahan itu akan mengalir kepada yang ikut menikmati harta tersebut. Seperti tinta yang mengalir di bak air, sehingga siapa yang meminum akan tercemar oleh tinta tersebut. Sebaliknya, kalau harta yang dimiliki didapat dengan jalan yang baik dan bermanfaat bagi orang lain akan menjadi kelegaan. Kelegaan itu bagi umat Katolik akan diungkapkan dalam Ekaristi Kudus yang dirayakan bersama.<p>

]]></content>
		<id>http://romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry100803-182915</id>
		<issued>2010-08-03T00:00:00Z</issued>
		<modified>2010-08-03T00:00:00Z</modified>
	</entry>
	<entry>
		<title>Kunjungan FPUB</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry100727-122856" />
		<content type="text/html" mode="escaped"><![CDATA[
<a href="http://2.bp.blogspot.com/_s1aiaFcZDB0/SyDIDtrJooI/AAAAAAAAARA/EWfWYbviJtA/S730/Kop_banner3.JPG" target="_blank" ><img src=http://2.bp.blogspot.com/_s1aiaFcZDB0/SyDIDtrJooI/AAAAAAAAARA/EWfWYbviJtA/S730/Kop_banner3.JPG" width="460" hight="110"></a></a><br><br>

<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<img src="http://xa.yimg.com/kq/groups/17510854/sn/838717369/name/34.jpg" width="300" hspace="20"></a></td></tr></table>

<b>Kunjungan wakil Asia Pasific ke FPUB</b><br><br>

Hari Minggu 25 Juli 2010, Forum Persaudaraan Umat Beriman Yogyakarta (FPUB) mendapat kunjungan perwakilan dari sebelas Negara Asia Pasifik (antara lain: Myanmar, Kamboja, Vietnam, Papua New Guinea, Timor Leste, Thailand, Burma, Philiphina, dll). Acara tersebut dipandu oleh Kepala Diklat Departemen Luar Negeri Indonesia, Arief Hidayat.<p>

Katanya, beberapa perwakilan tersebut diutus ke Indonesia, khususnya di Yogyakarta, untuk belajar bagaimana mengkondisikan perdamaian lintas agama dan kepercayaan seperti yang telah sekian lama terwujud di Yogyakarta. Kedatangan mereka disambut secara sederhana di Pesantren Nurul Umahat yang menjadi salah satu tempat warga FPUB sering berkumpul. Memang menarik dalam diskusi minggu siang tersebut. Kebanyakan dari mereka bertanya, apa yang kami kerjakan sehingga umat Islam tidak canggung bergaul dengan masyarakat non Islam. Kami menjelaskan bahwa hubungan dekat itu tidak menyeluruh, namun cukup memberi warna di Yogyakarta. Resepnya sederhana, hubungan dekat itu DIMULAI. Kami tidak pertama-tama melihat perbedaan, melainkan melihat kesamaan. Sebab, kalau pertemuan itu sudah diawali dengan melihat perbedaan, yang terjadi kemudian adalah fanatisme.<p>

Hubungan dekat juga dimulai melalui proses yang panjang dan personal. Apalagi kalau sering dipertemukan untuk menggarap permasalahan kemanusiaan, perbaikan tatanan alam, dll. Singkatnya, apa yang menjadi masalah umum, kami mulai kerjakan dalam kebersamaan.<p>

Para tamu tersebut juga mempertanyakan: Bagaimana tantangan dari mereka yang tidak setuju dengan pendekatan gaya FPUB. Kami menjawab, tantangan selalu ada. Sebab, ketika setiap orang bergerak mesti beresiko, mendapatkan tantangan. Namun, kami memulai dari mereka yang terbuka untuk bekerja bersama. Biarlah orang tidak setuju, namun ternyata relasi baik itu membuahkan hidup lebih tenteram. Kadang tantangan juga menohok kami, mustahil FPUB mampu mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Kami sadar, memang pancingan itu sering menggelantung di depan mata. Namun, mengacu nasihat romo Mangunwijaya: <i>Think Globaly Act Locally</i>. Yang berarti apa yang kami kerjakan dalam tingkat lokal diharapkan mampu membawa dampak ke wilayah yang lebih luas. Buktinya gerakan yang mirip FPUB juga mulai tumbuh di banyak tempat.<p>

Namun, yang menjadi tantangan ekstern, yang kadang menjadi kurang nyaman adalah sering kami kesulitan mengajak kawan-kawan kami untuk berani mulai berelasi manusiawi dan natural dengan kawan-kawan yang berbeda. Ada kecenderungan bahwa orang yang sudah merasa nyaman, mereka tidak ingin mendapat masalah baru saat mulai membuka diri terhadap orang yang berkeyakinan lain.<p>

Sesudah menyaksikan foto-foto dan film singkat FPUB yang berjudul <i>Yogya the city of tolerance</i>, para tamu mengunjungi sisa kerajaan Mataram kuno dan masjid Agung di Kotagedhe. Situs kerajaan Mataram kuno dan masjid Agung tersebut menggambarkan perpaduan model bangunan Hindu dan Islam. Hal ini dimaksudkan bahwa sejak zaman Mangkubumi atau Hamengkubuwana I di Yogyakarta sudah ada toleransi lintas iman (Hindu dan Islam).<p>

Selanjutnya para tamu kami antar ke Sanggar Candi Sapto Renggo, yakni pusat Penghayat Kerohanian Sapta Dharma. Di tempat itu kami banyak menjawab pertanyaan para tamu tentang kegiatan kebersamaan dengan teman lain yang berbeda agama. Kami menjelaskan bahwa meski di Indonesia hanya diakui 6 agama resmi, namun FPUB tetap merangkul mereka yang menyembah Tuhan, apa pun sebutannya, untuk diajak bersaudara. Dan, itu sudah berjalan 14 tahun. Mereka juga menyaksikan bagaimana para penghayat Sapto Dharma melakukan doa Sujud dengan cara yang cukup magis. Setelah berdiskusi panjang lebar, lalu dilanjutkan makan siang dengan senang. Beberapa tamu banyak yang berkomentar bahwa baru pertama kali ini mereka bisa makan bersama dalam konteks perbedaan agama dan kepercayaan namun bisa merasakan kebersamaan dan persaudaraan.<p>

Karena keterbatasan waktu, para tamu segera bergeser dari Sanggar Candi Sapta Rengga menuju ke Keraton Yogyakarta guna melihat kebudayaan multi kultur yang masih dipertahankan dalam bentuk budaya Keraton Yogyakarta.<p>

Kami sempat bertanya kepada para tamu, mengapa mereka jauh-jauh dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit melakukan kunjungan ke FPUB. Kebanyakan dari mereka, mereka justru ingin belajar dari kehidupan kongkrit (bukan hanya konsep) agar di Negara mereka bisa dipraktikkan. Sebab, pada dasarnya setiap manusia merindukan suasana kebersamaan dan perdamaian meski pun berbeda dalam penghayatan imannya.<p>

Somohitan 26 Juli 2010

]]></content>
		<id>http://romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry100727-122856</id>
		<issued>2010-07-27T00:00:00Z</issued>
		<modified>2010-07-27T00:00:00Z</modified>
	</entry>
</feed>
